Pada perkembangannya tradisi meminum jamu tidak hanya dilakukan oleh warga keraton, namun juga mulai dikenalkan kepada masyarakat luas. Resep jamu diwariskan secara turun menurun dan menjadi harta pusaka masyarakat Jawa pada khususnya. Didukung kondisi tanah Indonesia yang subur dan menjadi negara nomor 2 di dunia setelah Brazil dalam hal kekayaan tanaman obat, jamu pun terus berkembang hingga tercipta beragam racikan baru.
Salah satu sosok yang turut melestarikan keberadaan jamu di Indonesia adalah Nyonya Meneer. Berawal dari sakit tak kunjung sembuh yang mendera suaminya, Nyonya Meneer mencoba meracik beragam rempah dan tumbuhan obat menjadi jamu. Tanpa dinyana jamu yang diracik berdasarkan sedikit pengetahuan yang dimilikinya mampu menyembuhkan sakit sang suami. Dari kejadian tersebut Nyonya Meneer mulai memperdalam pengetahuannya tentang jenis-jenis tumbuhan dan cara meracik jamu secara otodidak. Dia pun kemudian mendirikan perusahaan jamu dengan nama Jamu Cap Potret Nyonya Meneer.
Agar pusaka budaya nusantara yang agung dan tinggi nilainya tidak punah digilas laju modernisasi, atas gagasan Ibu Tien Soeharto yang kala itu menjadi ibu negara dibangunlah Museum Jamu Nyonya Meneer pada 18 Januari 1984. Rasa penasaran yang tinggi dan keinginan untuk mencari informasi tentang sejarah jamu di bumi nusantara akhirnya mendorong YogYES untuk menyambangi museum yang terletak di Jalan Raya Kaligawe ini. Museum jamu pertama di Indonesia ini menyatu dengan bangunan pabrik dan terletak di lantai dua. Tak ada tiket yang perlu dibayarkan untuk masuk ke Museum Jamu Nyonya Meneer, yang harus dilakukan hanyalah lapor ke bagian penerimaan tamu. Seorang pemandu yang ramah pun menemani YogYES mengelilingi museum.
Menaiki tangga museum, YogYES disambut rangkaian foto yang mengurai sejarah berdirinya PT Jamu Nyonya Meneer. Koleksi selanjutnya adalah barang pribadi Nyonya Mener seperti lumpang dan alu tempat menumbuk jamu pertama yang dia buat, botekan (kotak berlaci tempat menyimpan resep), dacin (alat penimbang tradisional), kebaya encim, keramik, dan perhiasan. Tak ketinggalan pula diorama proses pembuatan jamu dan aneka rupa simplisia (tanaman kering yang siap diracik menjadi jamu). Selain menyaksikan koleksi Museum Jamu Nyonya Meneer, YogYES juga diajak untuk melihat proses pembuatan jamu secara tradisional. Seorang perempuan dengan pakaian khusus terlihat menggiling racikan jamu di atas pipisan, sedangkan perempuan lainnya membentuk racikan jamu menjadi pilis.
Jamu-jamu produksi Indonesia ini rupanya tidak hanya dipasarkan di wilayah nusantara, melainkan sudah merambah hingga Australia, Singapura, Malaysia, Taiwan, dan Arab. Karena itu banyak wisatawan mancanegara yang tertarik untuk mengunjungi Museum Jamu Nyonya Meneer. Dalam setahun, tak kurang dari 4 kapal pesiar yang merapat di Pelabuhan Tanjung Mas membawa rombongannya mengunjungi Museum Jamu Nyonya Meneer guna menyaksikan proses pembuatan jamu. Sambil menikmati segelas serbat hangat yang disajikan oleh pemandu, pikiran YogYES tiba-tiba diliputi pertanyaan besar. Jika bangsa asing saja tertarik untuk menyaksikan dan mempelajari tentang keagungan budaya nusantara, mengapa Bangsa Indonesia sendiri terkadang meremehkan dan melupakannya? Hingga YogYES beranjak meninggalkan museum, pertanyaan yang melintas di benak tak juga menemui jawaban.
Keterangan:
Jam buka: Senin - Jumat, pukul 10:00 - 15:30 WIB
Kunjungan dengan jumlah lebih dari 25 orang harap menghubungi pengelola museum satu minggu sebelum tanggal kunjungan.
Salah satu sosok yang turut melestarikan keberadaan jamu di Indonesia adalah Nyonya Meneer. Berawal dari sakit tak kunjung sembuh yang mendera suaminya, Nyonya Meneer mencoba meracik beragam rempah dan tumbuhan obat menjadi jamu. Tanpa dinyana jamu yang diracik berdasarkan sedikit pengetahuan yang dimilikinya mampu menyembuhkan sakit sang suami. Dari kejadian tersebut Nyonya Meneer mulai memperdalam pengetahuannya tentang jenis-jenis tumbuhan dan cara meracik jamu secara otodidak. Dia pun kemudian mendirikan perusahaan jamu dengan nama Jamu Cap Potret Nyonya Meneer.
Agar pusaka budaya nusantara yang agung dan tinggi nilainya tidak punah digilas laju modernisasi, atas gagasan Ibu Tien Soeharto yang kala itu menjadi ibu negara dibangunlah Museum Jamu Nyonya Meneer pada 18 Januari 1984. Rasa penasaran yang tinggi dan keinginan untuk mencari informasi tentang sejarah jamu di bumi nusantara akhirnya mendorong YogYES untuk menyambangi museum yang terletak di Jalan Raya Kaligawe ini. Museum jamu pertama di Indonesia ini menyatu dengan bangunan pabrik dan terletak di lantai dua. Tak ada tiket yang perlu dibayarkan untuk masuk ke Museum Jamu Nyonya Meneer, yang harus dilakukan hanyalah lapor ke bagian penerimaan tamu. Seorang pemandu yang ramah pun menemani YogYES mengelilingi museum.
Menaiki tangga museum, YogYES disambut rangkaian foto yang mengurai sejarah berdirinya PT Jamu Nyonya Meneer. Koleksi selanjutnya adalah barang pribadi Nyonya Mener seperti lumpang dan alu tempat menumbuk jamu pertama yang dia buat, botekan (kotak berlaci tempat menyimpan resep), dacin (alat penimbang tradisional), kebaya encim, keramik, dan perhiasan. Tak ketinggalan pula diorama proses pembuatan jamu dan aneka rupa simplisia (tanaman kering yang siap diracik menjadi jamu). Selain menyaksikan koleksi Museum Jamu Nyonya Meneer, YogYES juga diajak untuk melihat proses pembuatan jamu secara tradisional. Seorang perempuan dengan pakaian khusus terlihat menggiling racikan jamu di atas pipisan, sedangkan perempuan lainnya membentuk racikan jamu menjadi pilis.
Jamu-jamu produksi Indonesia ini rupanya tidak hanya dipasarkan di wilayah nusantara, melainkan sudah merambah hingga Australia, Singapura, Malaysia, Taiwan, dan Arab. Karena itu banyak wisatawan mancanegara yang tertarik untuk mengunjungi Museum Jamu Nyonya Meneer. Dalam setahun, tak kurang dari 4 kapal pesiar yang merapat di Pelabuhan Tanjung Mas membawa rombongannya mengunjungi Museum Jamu Nyonya Meneer guna menyaksikan proses pembuatan jamu. Sambil menikmati segelas serbat hangat yang disajikan oleh pemandu, pikiran YogYES tiba-tiba diliputi pertanyaan besar. Jika bangsa asing saja tertarik untuk menyaksikan dan mempelajari tentang keagungan budaya nusantara, mengapa Bangsa Indonesia sendiri terkadang meremehkan dan melupakannya? Hingga YogYES beranjak meninggalkan museum, pertanyaan yang melintas di benak tak juga menemui jawaban.
Keterangan:
Jam buka: Senin - Jumat, pukul 10:00 - 15:30 WIB
Kunjungan dengan jumlah lebih dari 25 orang harap menghubungi pengelola museum satu minggu sebelum tanggal kunjungan.
No comments:
Post a Comment