Ada yang lucu di pagi hari saat menjelang sarapan, kami dengar pembicaraan antara pemandu pendamping yang orang lokal, mendiskusikan jalan yang akan ditempuh berikutnya. “Kondisi jalan ke lokasi disana gimana, rusak ya?” Tanya pengemudi. Dijawab pemandu, “Ah nggak rusak, cuma hancur saja”. “Gubrag..” Kami semua ketawa stress. Nah kurang lebih begitu kondisi jalan yang ditempuh tak lama sesudah melewati Kiara Dua.
Saking hancurnya, setelah diguncang hebat dalam Elf yang kami naiki, beberapa km sebelum tiba di desa tujuan si pengemudi menyerah dan tak berani melanjutkan perjalanan. Jreeng, dengan semangat pantang menyerah diputuskan melanjutkan sampai titik awal perjalanan dengan ojek. Jadilah kami naik ojek menembus pasar, sawah dan longsoran sungai.
Mulailah perjalanan kaki rombongan 7 orang plus pemandu plus anak-anak desa yang membantu membawakan peralatan foto kawan-kawan. Semua menuju Curug Cikanteh dan Curug Kodong ..[ Ada satu lagi yang lebih jauh tetapi kami tak kesana.] Uhuy, backpack-ku ditawarkan untuk dibawakan juga, tapi aku tolak, gaya ya .. He he he kan gengsi juga.
Dimulai dengan menyusur sawah dan saluran irigasi desa, kemudian belok dan masuk kebun-kebun, mulailah proses menanjak; juga menurun, menanjak lagi. Jalan makin kecil dan alang-alang serta semak makin rapat. Kadang agak basah, namun agak beruntung karena lama (beberapa hari)tidak hujan jadi tak terlalu licin juga.
Jalan yang sering agak licin menjadi hambatan untuk kecepatan. Hambatan lain, misalnya, kamera (sangat mahal) seorang rekan tak sengaja tercelup sungai dan tak bekerja lagi. Disini dibutuhkan kerjasama agar perjalanan baginya tak sia-sia; saling meminjamkan peralatan adalah hal biasa. Sayang seorang kawan kelelahan dan pusing melihat ketinggian tanjakan terjal, dia hanya tempuh separoh perjalanan.
Proses memotret dilakukan sistematik, dari arah belakang dan maju ke depan agar tak saling menghalangi. Semua memasang tripod, filter dan kamera .. Siap mengabadikan. Take nothing but pictures, leave nothing but foot prints. Sampah bekal minuman dll kami bawa kembali. Tak terasa beberapa jam berlalu, saatnya makan dan menuju tujuan lain.
Kembali melintasi sebagian jalan yang kami lalui tadi, ternyata berbelok sedikit kami sudah sampai di Curug Kodong. Dan makan siang menanti disini. Cukup sederhana saja, nasi putih semur daging dan sambel ulek, tapi nikmatnya tak terperi.
Namanya jalan-jalan begini semua segera menggelar peralatan memotret setelah makan. Dan ini berlangsung cukup lama, sampai diingatkan waktu pulang karena perjalanan masih jauh. Ah enaknya perjalanan ini.
Catatan:
Fisik. Sejak dulu saya bukan penggemar olahraga, meskipun suka jalan-jalan di alam. Ternyata memang perlu menjaga kebugaran fisik (dan jiwa tentunya). Saat tengah jalan beberapa kali mengalami kelelahan yang sangat, nafas hampir habis alias ngos-ngosan. Ah sampai-sampai tak berani istirahat di tempat adem sebelum sampai, supaya suhu tubuh terjaga. Juga hanya dengan menyemangati diri sendiri bisa menempuh perjalanan ini, bayangkan saja hal-hal yang menyenangkan, berbagi dengan teman juga sangat membantu.
Maaf. Ternyata sepanjang perjalanan banyak sekali semut rang-rang. Banyak yang menggigit kami. Tapi banyak juga yang mungkin mati terinjak, sungguh itu bukan disengaja.
Salam Indonesia indah …
No comments:
Post a Comment