Pada saat Imlek tiba, Pohon Mei Hua
banyak sekali dijadikan aksesoris imlek, seperti angpau dan lampion
sebagai pelengkap dekorasi ruangan.
Pohon Mei Hua juga dianggap sebagai lambang harapan, keuletan, kebahagiaan, dan kesejahteraan. Uniknya, ternyata pohon ini mampu berkembang di sepanjang musim, tak peduli musim dingin atau musim panas.
Dahulu kala dikisahkan, kakak beradik Da Jui (Si Mulut Besar) dan Da Shou (Si Tangan Besar) memiliki sifat bertolak belakang. Da Jui berupaya menguasai harta adiknya dengan cara mengusirnya.
Dia yang pemalas dan serakah itu memberi si adik dengan bagian harta yang sedikit, yakni 3 rumah sederhana, 10 hektare sawah tandus, seekor anjing dan kambing. Karena sifat buruknya itu, lama-kelamaan harta Da Jui menipis. Bahkan keledai dan kuda pun dijual untuk membeli bahan makanan.
Da Shou dan keluarganya tetap berupaya bekerja keras. Dengan dibantu anjing dan kambingnya, ia mengerjakan sawah dengan tekun. Akhirnya hasil mereka berlimpah dan memiliki banyak cadangan makanan untuk musim dingin.
Melihat kesuksesan Da Shou, timbul niat jahat Da Jui untuk membunuh anjing dan kambing adiknya itu. Kedua hewan itu mati setelah makanannya ditaburi racun. Tentu saja keluarga Da Shou berduka. Lalu kedua hewan itu dimakamkan di pekarangan belakang rumah mereka.
Ketika memasuki musim semi tahun kedua, di atas makam tersebut tumbuh dua batang pohon kecil. Satu dari pohon tersebut bisa menghasilkan emas, sedangkan batang yang lain menghasilkan perak. Sejak itu kehidupan Da Shou menjadi makmur.
Dari cerita tersebut, kini masyarakat Tionghoa berupaya meneladaninya dengan memajang pohon mei hua setiap perayaan tahun baru Imlek.
Wah ternyata setiap dekorasi imlek itu punya makna yang bermacam-macam ya!
(***)
Sumber : Berbagai sumber
Pohon Mei Hua juga dianggap sebagai lambang harapan, keuletan, kebahagiaan, dan kesejahteraan. Uniknya, ternyata pohon ini mampu berkembang di sepanjang musim, tak peduli musim dingin atau musim panas.
Dahulu kala dikisahkan, kakak beradik Da Jui (Si Mulut Besar) dan Da Shou (Si Tangan Besar) memiliki sifat bertolak belakang. Da Jui berupaya menguasai harta adiknya dengan cara mengusirnya.
Dia yang pemalas dan serakah itu memberi si adik dengan bagian harta yang sedikit, yakni 3 rumah sederhana, 10 hektare sawah tandus, seekor anjing dan kambing. Karena sifat buruknya itu, lama-kelamaan harta Da Jui menipis. Bahkan keledai dan kuda pun dijual untuk membeli bahan makanan.
Da Shou dan keluarganya tetap berupaya bekerja keras. Dengan dibantu anjing dan kambingnya, ia mengerjakan sawah dengan tekun. Akhirnya hasil mereka berlimpah dan memiliki banyak cadangan makanan untuk musim dingin.
Melihat kesuksesan Da Shou, timbul niat jahat Da Jui untuk membunuh anjing dan kambing adiknya itu. Kedua hewan itu mati setelah makanannya ditaburi racun. Tentu saja keluarga Da Shou berduka. Lalu kedua hewan itu dimakamkan di pekarangan belakang rumah mereka.
Ketika memasuki musim semi tahun kedua, di atas makam tersebut tumbuh dua batang pohon kecil. Satu dari pohon tersebut bisa menghasilkan emas, sedangkan batang yang lain menghasilkan perak. Sejak itu kehidupan Da Shou menjadi makmur.
Dari cerita tersebut, kini masyarakat Tionghoa berupaya meneladaninya dengan memajang pohon mei hua setiap perayaan tahun baru Imlek.
Wah ternyata setiap dekorasi imlek itu punya makna yang bermacam-macam ya!
(***)
Sumber : Berbagai sumber
No comments:
Post a Comment