Tuesday, May 29, 2012

Telaga Merdada



Wisatanesia.com-Telaga Merdada Telaga ini merupakan telaga terluas di Kawasan Wisata Dataran Tinggi Dieng kurang lebih 25 Ha dengan kedalaman 2 – 10 meter.

Berlatar belakang lereng-lereng bukit yang hijau, dan bedeng-bedeng jamur khas Dieng menambah keindahan pemandangan telaga ini. Untuk wisatawan disediakan sampan untuk disewa mengelilingi telaga dan fasilitas memancing ikan telaga yang jernih juga kesejukan alam dan indahnya bunga-bunga di sekitar telaga membuat btah wisatawan berlama-lama di telaga ini.Wisata Indonesia Surga Dunia

Monday, May 7, 2012

Kikil Sapi Pak Madekan

Menikmati kuliner malam hari memang cukup menyenangkan, selain bisa terhindar dari kemacetan, kita juga tidak perlu merasakan sengatan sinar matahari yang cukup panas. Tujuan tim wisatakuliner.com kali ini sangat menggoda tapi juga cukup berbahaya, terutama bagi yang memilki masalah kolestrol dengan tingkat yang cukup tinggi. Malam itu kami menuju jalan Sepanjang Tani untuk menikmati Kikil Sapi Pak Madekan. Warung ini hanya menempati sebuah lapak kecil di atas jalan trotoar bersama beberapa pedagang lainnya. Ada dua buah kursi panjang yang tersedia di depan dan di samping penjualnya, tidak ada satu pun meja yang melengkapinya.
Malam itu Saya melihat tidak ada satu pun pengunjungnya yang berada di sana, hanya seorang lelaki setengah baya yang sedang duduk dibalik meja tempat dagangannya. Waktu Saya memesan seporsi kikil sapi, dengan segera laki-laki itu mulai meracik pesanan Saya dengan cepat. Semangkuk kikil sapi hanya terdiri dari 3 potong lontong dengan tambahan kuah dan potongan kikil yang cukup banyak. Tidak lupa dikucurkan air perasan jeruk nipis, kecap manis dan beberapa sendok sambal sesuai dengan permintaan pembeli. Kuahnya bening kecokelatan dan agak berminyak, tapi rasanya memang sedap, gurih dan menyegarkan. Ada asam, pedas dengan potongan kikil yang empuk dan lembut, meskipun tidak tersedia meja, tapi kita bisa dengan mudahnya untuk memotong kikilnya.
Baru beberapa suap Saya menikmati kikilnya, beberapa orang kemudian datang. Ada yang membeli untuk dimakan ditempat, ada juga yang membeli untuk dibawa pulang. Selain kikil, disini juga tersedia sumsum sapi yang konon sangat baik untuk masa penyembuhan setelah mengalami patah tulang atau keretakan tulang. Sedangkan untuk minumannya, hanya tersedia air mineral cup yang sudah tersusun di atas meja tempat bahan-bahan lainnya. Biasanya warung ini sudah mulai menggelar lapaknya mulai dari jam 4 sore sampai jam 12 malam setiap hari. Meskipun tempatnya sangat kecil dan sederhana, tidak kurang dari 14 pasang kaki sapi dan 7-8 kg beras untuk membuat lontongnya selalu habis setiap hari diburu para pembelinya.
Berdasarkan informasi yang Saya terima dari Pak Novianto yang saat ini menjalankan usaha ini, pada awalnya usaha kikil sapi ini dirintis oleh Pak Madekan sekitar tahun 1960-an. Setelah Beliau wafat pada tahun 2001, usaha ini dikelola oleh istri Beliau hingga akhirnya pada 2008 usaha ini diserahkan kepada putranya yang bernama Pak Novianto sampai saat ini. Setelah Saya selesai menikmati kikil sapinya, ternyata beberapa orang yang sedang duduk di lapak sebelahnya juga menikmati kikil sapi Pak Madekan ini. Meskipun tempatnya sangat sederhana dan cukup sempit, tapi menikmati kikil di tempat ini juga cukup menyenangkan, apalagi suasana lalu lintasnya tidak terlalu padat. Biasanya untuk seporsi kikil sapi dibandrol dengan harga 10ribu rupiah. Porsinya memang cukup sedikit, tapi harga segitu tidak terlalu mahal jika dibandingkan dengan rasanya yang istimewa.

Lila, Februari 2012
Sumber foto : koleksi www.wisatakuliner.com

Specifications

  • Menu Andalan: Kikil Sapi (Rp. 10.000)
  • Jam Buka: 16.00 - 00.00
  • Alamat Lokasi: Jl. Sepanjang Tani, Sepanjang, Sidoarjo Telp. 031-77556466, 77994172, 08563360136

Sunday, May 6, 2012

Warung Lesehan Sari Baruna – Goa Lawah-Klungkung

Minggu kemarin tim wisatakuliner.com diajak seorang teman untuk mencoba mobil barunya. Lumayan nih tumpangan gratis sekalian jalan-jalan pikir saya, tanpa ba bi bu lagi langsung saya jawab Oke. Perjalanan kami kali ini kearah pulau Bali bagian Timur, karena bosan setiap kali selalu jalan-jalan ke arah yang itu-itu aja. Kami berangkat dari Denpasar sekitar pukul 11 siang, wah pas jam makan siang nih.. Makan dimana ya enaknya? Mengingat di daerah perjalanan kami sulit sekali menemukan tempat makan yang recommended. Oiya, ada satu tempat makan yang boleh dikunjungi buat makan siang kata Saya. Sudah lama sekali Saya tidak pernah mampir lagi ke tempat ini, makan siang sekaligus kangen-kangenan sama sate ikan lilitnya.
Tibalah kami di Warung Lesehan Sari Baruna, warung yang kami tuju berada di jalan Goa Lawah kira-kira 200 meter sebelah kiri jalan sebelum obyek wisata Goa Lawah jika dari arah Denpasar. Di daerah ini memang ada beberapa warung yang menjual sate ikan lilit, namun warung lesehan Sari Baruna ini yang paling terlihat rame pengunjung. Warung ini memiliki lahan parkir yang cukup luas jadi kendaraan roda empat dapat dengan mudah parkir. Tempat makannya sendiri juga cukup luas, bersih dan sederhana dengan desain warung khas Bali yang semi terbuka sehingga bisa merasakan sepoi-sepoi angin saat makan. Pengunjung bisa memilih untuk menikmati sate ikan lilit di meja kursi atau di tempat yang lesehan, tergantung selera saja.
Menu utama disini sudah tentu adalah Sate ikan lilitnya, biasanya disajikan dalam bentuk per porsi paket. Satu porsi berisi nasi putih, lauknya 5 tusuk sate ikan lilit, plecing kangkung khas Bali, pepes ikan, sop kuah ikan berisi 3 butir bakso ikan dan tak ketinggalan sambal matah-nya. Ditambah lagi camilan semangkuk kacang tanah goreng kering yang gurih dan renyah. Rasa sate ikan lilitnya jika dibandingkan dengan yang dijual di Denpasar menurut Saya sedikit berbeda. Yang disajikan disini lebih berasa daging ikannya dan lebih ringan rasa bumbunya. Apalagi makannya ditemani dengan sop kuah ikannya yang bikin tambah seger. Dijamin kenyang, puas dan hati senang karena harga seporsi paket sate ikan lilit ini cukup ramah dikantong. Lanjut lagi deh perjalanan kami menyusuri wilayah Bali bagian Timur, tapi sayangnya sepanjang perjalanan Saya mengantuk karena terlalu kenyang makan siang.

Sika, Maret 2012
Sumber foto : koleksi www.wisatakuliner.com

Specifications

  • Menu Andalan: paket sate ikan lilit (Rp. 15.000)
  • Jam Buka: 06.00 – 20.00
  • Alamat Lokasi: : Jl. Raya Pesinggahan, Goa Lawah - Klungkung Telp. 081.338.624.236

Thursday, May 3, 2012

Menyingkap Sejarah Islam Di Balik Gunung Jabalkat Yang Gersang

Ditulis oleh Agus Siswoyo pada tanggal 28.04.2012 | Komentar
Daripada mengunjungi obyek wisata modern, saya termasuk orang yang lebih suka liburan ke tempat-tempat bersejarah seperti museum, situs, candi dan beragam lokasi bersejarah lainnya. Bahkan saya punya impian ingin menjelajahi wilayah Indonesia yang luas dan menemukan berbagai kekayaan budaya Nusantara. Mudah-mudahan ada cukup dana dan waktu untuk mewujudkan mimpi keliling Nusantara.
Salah satu tempat wisata di Indonesia yang membuat saya penasaran sejak masih kecil adalah Gunung Jabalkat. Saya mengenal nama Gunung Jabalkat dalam salah satu film kolosal Wali Songo. Film itu bercerita Gunung Jabalkat yang berada di lokasi terpencil dan dikenal sebagai lokasi pembuangan tahanan pada jaman Majapahit. Saya pun bercita-cita satu saat hari harus bisa menginjakkan kaki ke Gunung Jabalkat dan membuktikan segala mitos yang beredar di kalangan masyarakat Jawa.
Dan keinginan tersebut tercapai. I went there last year. I did it, I did it…!!! Sebenarnya saya nggak tahu kalau perjalanan wisata ke Jawa Tengah itu menuju Gunung Jabalkat. Soalnya jauh-jauh hari saya dan teman-teman cuma berencana ke Jalan Malioboro dan Candi Borobudur. Entah siapa yang punya ide nyelonong ke Gunung Jabalkat, tahu-tahu saya sudah membaca papan petunjuk menuju kawasan Jabalkat. Sontak saya kegirangan dan antusias banget.
Surau setelah deretan tangga menuju makam Sunan Bayat
Surau setelah deretan tangga menuju makam Sunan Bayat

Gunung Jabalkat Adalah Bukit Yang Tandus

Gunung Jabalkat berada di kecamatan Bayat, kota Klaten, propinsi Jawa Tengah. Nggak seperti cerita para sesepuh atau kakek nenek saya yang menyatakan Jabalkat sebagai tempat pengasingan buat para pembangkang, saat ini Jabalkat sudah sama ramai dan berkembang sama dengan wilayah lain di Jawa Tengah. Lebih dari itu, Gunung Jabalkat dibangun menjadi salah satu tempat wisata di Jawa Tengah yang bisa diandalkan.
Gunung Jabalkat aslinya adalah bukan sebuah gunung. Menurut saya, Jabalkat lebih tepat disebut sebagai Bukit Jabalkat karena berada di dataran tinggi, bukan pegunungan. Namun sebutan yang terlanjur salah kaprah di masyarakat membuat nama Jabalkat lebih identik dengan nama gunung.
Perjalanan menuju Jabalkat melewati jalan berpasir yang tandus. Celakanya, waktu saya liburan ke Jabalkat waktu itu bulan November dan cuaca sedang terik. Mungkin inilah efek pemanasan global yang bikin acara liburan kita jadi nggak bisa terprediksi kapan hujan kapan panas. Karena saya orang yang alergi terhadap debu, saya agak tersiksa oleh kondisi demikian.

Menapak Ribuan Tangga di Makam Sunan Bayat

Overall, saya bisa enjoy perjalanan menuju Gunung Jabalkat yang panas menyengat. Dan penderitaan cuaca ekstrim belum berakhir. Perjalanan wisata di Klaten ini menuju makam Sunan Bayat. Lokasi makam tepat berada di puncak bukit, eh maksudnya Gunung Jabalkat. Untuk mencapai lokasi makam Sunan Bayat, wisatawan harus melewati ratusan tangga berundak. Dan… aturannya adalah nggak boleh pakai alas kaki.
Hiks! Siang hari harus nyeker di lantai panas dengan terpaaan matahari. Saya ingat betul waktu itu kira-kira jam 1 siang pas matahari sedang bersinar dengan ganasnya. Tanpa ba bi bu lagi saya cepat-cepat melangkahkan kaki menuju tangga teratas dan berteduh di surau yang ada di puncak bukit. Teman-teman satu rombongan kelihatan sama ngos-ngosan dengan saya. Hehehe. Makanya, kalau mau liburan harus survey dulu biar tahu medannya.
Cuaca terik yang menyiksa tubuh saya terbayar oleh keindahan yang tersaji di depan mata. Dari pagar makam, saya bisa menyaksikan pemandangan menakjubkan Gunung Jabalkat dari ketinggian. Perpaduan tanah tandus dan hijau pepohonan tampak serasi dengan arsitektur makam bergaya Jawa Klasik. Walaupun Sunan Bayat adalah penyebar agama Islam, namun suasana Hindu masih tampak dalam gapura yang berhias kala makara mirip candi Prambanan.
Gapura Makam Sunan Bayat atau Sunan Pandanaran
Gapura Makam Sunan Bayat atau Sunan Pandanaran

Sejarah Sunan Bayat Dan Wali Songo

Apakah acara ‘olahraga siang’ di Gunung Jabalkat sudah selesai? Ternyata belum. Untuk menuju area utama makam, wisatawan harus naik tangga lagi. Meski nggak sebanyak tangga di kaki bukit, tapi tetap saja kaki terasa tersengat panas. Sekali lagi saya harus menguras keringat untuk menjelajahi area bersejarah ini. Yang menyenangkan adalah di area makam terdapat beberapa petugas penjaga makam. Dari merekalah saya menggali sedikit informasi seputar profil Sunan Bayat.
Data yang saya dapat dari aki-aki di Bayat saya kroscek dengan tulisan di Wikipedia. Disebutkan bahwa Sunan Bayat adalah salah wali atau penyebar agama Islam di tanah Jawa. Meski nggak termasuk dalam Wali Songo, nama Sunan Bayat termasuk tokoh yang dihormati warga Jawa Tengah karena keturunan bangsawan dan bernama Pangeran Mangkubumi. Nama lain Sunan Bayat adalah Sunan Pandanaran.
Konon katanya, jaman dulu kala sebelum masuk agama Islam, Sunan Bayat pernah dikutuk oleh Sunan Kalijogo sehingga memiliki kepala kambing namun tetap berbadan manusia. Namun karena tekad dan niatnya yang bulat dalam menyebarkan agama Islam, Sunan Bayat bisa pulih seperti sedia kala.
Itulah cerita yang bisa saya bagi kali ini mengenai acara liburan ke Gunung Jabalkat dengan mengunjungi lokasi makam Sunan Bayat. Bagaimana dengan acara liburan Anda? Pernah ke Gunung Jabalkat juga? Ayo berbagi cerita jalan-jalan keliling Indonesia di kolom komentar!

Mitos Melingkarkan Tangan di Tiang Pendapa Keraton Mangkunegaran Solo

Ditulis oleh Agus Siswoyo pada tanggal 02.05.2012 | Komentar
Kota Solo terletak di propinsi Jawa Tengah. Kota Solo disebut juga sebagai kota Surakarta. Solo merupakan salah satu tempat wisata di Jawa Tengah yang mengandalkan potensi seni dan budaya Jawa sebagai daya tarik utama tujuan wisata. Meski demikian, sejumlah tempat wisata modern juga mulai dibangun di Solo. Tempat wisata modern tersebut umumnya berupa pusat perbelanjaan yang menjual hasil kerajinan warga Solo dan sekitarnya. Misalnya batik Solo dan kerajinan gerabah.
Kali ini saya akan berbagi pengalaman travelling di kota Solo dengan naik kendaraan sepeda motor. Di atas jalanan kota Solo, saya dan seorang teman meluncur dengan berboncengan motor. Rencana awalnya, teman saya ini mau mengajak saya nonton film. Kami berhenti di depan Solo Grand Mall. Sempat lihat-lihat sebentar jadwal film apa yang mau tayang hari itu. Tapi setelah berunding sebentar, kami memutuskan nggak jadi nonton film karena film yang akan ditayangkan hari itu kami pikir nggak cukup menarik.
Mitos Melingkarkan Tangan di Tiang Pendapa Keraton Mangkunegaran Solo
Mitos Melingkarkan Tangan di Tiang Pendapa Keraton Mangkunegaran Solo

Seni Arsitektur Keraton Mangkunegaran Solo

Keluar dari Solo Grand Mall, saya mengajak teman saya berkunjung ke Keraton Kasunanan Solo. Sekali lagi saya harus berdebat untuk acara travelling kali ini. Saya pengennya ke Kasunanan tapi teman saya itu malah mengajak berkunjung ke Keraton Mangkunegaran Solo. Apa yang membedakan Kasunanan dan Mangkunegaran? Pada dasarnya keduanya sama-sama peninggalan budaya Jawa dari pecahanan Kerajaan Mataram. Yang satu berpusat di Jogja, satunya lagi di Solo. Namun yang membedakan keduanya adalah akses jalan ke Kasunanan lebih ribet.
Kami ambil jalan mudahnya saja. Jadinya waktu itu saya menurut saja ketika diajak ke Kraton Mangkunegaran Solo. Mau kemana lagi soalnya tempat wisata di Solo pada umumnya berupa keraton dan museum. Untungnya, hanya butuh waktu lima menit dari Solo Grand Mall menuju Kraton Mangkunegaran. Karena jaraknya yang dekat inilah maka banyak wisatawan yang liburan ke Kraton Mangkunegaran sekalian mampir ke Solo Grand Mall untuk beli oleh-oleh.
Keraton Mangkunegaran adalah tempat wisata yang terkenal karena memiliki bangunan pendapa yang konon katanya menjadi pendapa terbesar di Asia Tenggara. Wisatawan boleh duduk di tepi kolam di depan pendapa. Suasana sejuk sambil memandang bangunan berarsitektur Jawa campuran dengan Klasik itu sangat menenangkan. Bangunan Kraton Mangkunegaran memang megah namun sayangnya terlihat agak kusam. Apakah warna kusam itu disebabkan karena kurang perawatan atau memang sengaja dibiarkan untuk mempertahankan kondisi arsitektur aslinya? Saya kurang tahu pasti hal ini.

Mitos Seputar Tiang Pendapa Kraton Mangkunegaran Solo

Yang menarik dari Keraton Mangkunegaran adalah ukiran atapnya yang bergaya Barat. Pendudukan Belanda atas wilayah Nusantara rupanya berpengaruh terhadap perkembangan seni arsitektur di kota Solo. Pengaruhnya bukan hanya pada Keraton Mangkunegaran. Pasar Gede Solo pun memiliki arsitektur bangunan khas Belanda. Kalau boleh dibilang, pengaruh budaya Barat pada cagar budaya di Indonesia yang di Solo ini kelihatan sekali.
Karena penasaran dengan isi perabotan di dalam Keraton Mangkunegaran, saya dan teman saya melangkah menuju ke dalam Pendapa Keraton Mangkunegaran. Aturan yang berlaku disana adalah semua alas kaki pengunjung harus dilepas. Budaya Jawa yang satu ini masih berlaku di masyarakat suku Jawa. Sekarang saja kalau kita berkunjung ke saudara yang bertempat tinggal di Jawa Timur atau Jawa Tengah pasti ada aturan tak tertulis untuk melepas sandal atau sepatu sebelum masuk ruang tamu.
Dan kalau bicara adat Jawa di Kraton Mangkunegaran di kota Solo, maka kita tidak akan lupa salah satu mitos yang berkembang mengenai tiang pendapa Mangkunegaran. Ada sebuah mitos mengenai tiang pendapa di Keraton Mangkunegaran. Bahwa barang siapa yang bisa melingkarkan kedua tangannya ke tiang ini, dan kedua tangan itu dapat bertemu, maka keinginan yang dipanjatkan akan terkabul.
Meski efek lingkaran tangan itu cuma mitos, tapi saya perhatikan banyak wisatawan yang mencoba berdoa lalu merangkul tiang. Saya lihat ada wisatawan yang bisa menyatukan tangan, tapi ada juga yang gagal. Bagi yang berhasil melingkarkan tangan di tiang pendapa Mangkunegaran, mereka tampak ceria karena yakin mimpinya bisa terkabul. Tapi buat mereka yang gagal menyatukan tangan saat memeluk tiang pendapa, ada yang terlihat sedikit kecewa. Untuk saya pribadi nggak percaya mitos begituan dan nggak mau mencoba memeluk tiang segede itu. Hehehe.
Masjid di Keraton Mangkunegaran Solo
Masjid di Keraton Mangkunegaran Solo

Mencicipi Wisata Kuliner di Kota Solo

Setelah puas melihat cagar budaya Kraton Mangkunegaran Solo, saya dan kawan saya naik motor lagi membelah jalanan kota Solo yang ramai. Solo memang tak sebesar kota Semarang yang menjadi ibukota Jawa Tengah. Tapi tetap saja Solo tak ketinggalan membangun perekonomian mereka. Apalagi walikota mereka dikenal sangat andal bekerja membangun daerah. Hasilnya, saat ini Solo menjadi salah satu kabupaten/kota yang maju pesat.
Keraton Mangkunegaran kita tinggalkan. Berikutnya, dari arah Keraton Mangkunegaran kami menyeberang menuju Jalan Slamet Riyadi dan sampai di daerah Coyudan. Waktu itu perut sudah keburu lapar dan minta diisi. Untungnya disana terdapat salah satu restoran fastfood favorit saya. Makanannya nggak begitu menyehatkan sih, tapi tetap saja kalau acara liburan gini makanan apa saja terasa enak di lidah. Antara kalap, lapar dan hobi wisata kuliner bedanya tipis. Hehehe.
Selesai menghabiskan paket hemat fastfood, saya dan teman travelling sepakat menuju Notosuman. Di Notosuman ada srabi yang terkenal enak banget. Kalau berlibur ke tempat wisata di kota Solo nggak mampir ke Notosuman terasa belum afdhol gitu. Srabi disana manis, legit, gurih dan nggak bikin eneg. Hmm, sebenarnya ada banyak lokasi menarik lain yang bisa kita jelajahi di kota Solo. Kali ini cukup sekian dulu. Kekayaan budaya Jawa yang ada di kota Solo merupakan pendorong pertumbuhan iklim wisata yang harus kita lestarikan. Mari kita cintai budaya daerah sebagai akar budaya nasional. Ayo jalan-jalan ke kota Solo!