Ditulis oleh Agus Siswoyo pada tanggal 02.05.2012 |
Komentar
Kota Solo terletak di propinsi Jawa Tengah. Kota Solo disebut juga sebagai kota Surakarta. Solo merupakan salah satu
tempat wisata di Jawa Tengah yang mengandalkan potensi seni dan budaya Jawa sebagai daya tarik utama tujuan wisata. Meski demikian, sejumlah
tempat wisata
modern juga mulai dibangun di Solo. Tempat wisata modern tersebut
umumnya berupa pusat perbelanjaan yang menjual hasil kerajinan warga
Solo dan sekitarnya. Misalnya batik Solo dan kerajinan gerabah.
Kali ini saya akan berbagi pengalaman travelling di kota Solo dengan
naik kendaraan sepeda motor. Di atas jalanan kota Solo, saya dan seorang
teman meluncur dengan berboncengan motor. Rencana awalnya, teman saya
ini mau mengajak saya nonton film. Kami berhenti di depan Solo Grand
Mall. Sempat lihat-lihat sebentar jadwal film apa yang mau tayang hari
itu. Tapi setelah berunding sebentar, kami memutuskan nggak jadi nonton
film karena film yang akan ditayangkan hari itu kami pikir nggak cukup
menarik.

Mitos Melingkarkan Tangan di Tiang Pendapa Keraton Mangkunegaran Solo
Seni Arsitektur Keraton Mangkunegaran Solo
Keluar dari Solo Grand Mall, saya mengajak teman saya berkunjung ke
Keraton Kasunanan Solo. Sekali lagi saya harus berdebat untuk acara
travelling kali ini. Saya pengennya ke Kasunanan tapi teman saya itu
malah mengajak berkunjung ke Keraton Mangkunegaran Solo. Apa yang
membedakan Kasunanan dan Mangkunegaran? Pada dasarnya keduanya sama-sama
peninggalan budaya Jawa dari pecahanan Kerajaan Mataram. Yang satu
berpusat di
Jogja, satunya lagi di Solo. Namun yang membedakan keduanya adalah akses jalan ke Kasunanan lebih ribet.
Kami ambil jalan mudahnya saja. Jadinya waktu itu saya menurut saja
ketika diajak ke Kraton Mangkunegaran Solo. Mau kemana lagi soalnya
tempat wisata di Solo pada umumnya berupa keraton dan museum. Untungnya,
hanya butuh waktu lima menit dari Solo Grand Mall menuju Kraton
Mangkunegaran. Karena jaraknya yang dekat inilah maka banyak wisatawan
yang liburan ke Kraton Mangkunegaran sekalian mampir ke Solo Grand Mall
untuk beli oleh-oleh.
Keraton Mangkunegaran
adalah tempat wisata yang terkenal karena memiliki bangunan pendapa
yang konon katanya menjadi pendapa terbesar di Asia Tenggara. Wisatawan
boleh duduk di tepi kolam di depan pendapa. Suasana sejuk sambil
memandang bangunan berarsitektur Jawa campuran dengan Klasik itu sangat
menenangkan. Bangunan Kraton Mangkunegaran memang megah namun sayangnya
terlihat agak kusam. Apakah warna kusam itu disebabkan karena kurang
perawatan atau memang sengaja dibiarkan untuk mempertahankan kondisi
arsitektur aslinya? Saya kurang tahu pasti hal ini.
Mitos Seputar Tiang Pendapa Kraton Mangkunegaran Solo
Yang menarik dari Keraton Mangkunegaran adalah ukiran atapnya yang
bergaya Barat. Pendudukan Belanda atas wilayah Nusantara rupanya
berpengaruh terhadap perkembangan seni arsitektur di kota Solo.
Pengaruhnya bukan hanya pada Keraton Mangkunegaran. Pasar Gede Solo pun
memiliki arsitektur bangunan khas Belanda. Kalau boleh dibilang,
pengaruh budaya Barat pada cagar budaya di Indonesia yang di Solo ini
kelihatan sekali.
Karena penasaran dengan isi perabotan di dalam Keraton Mangkunegaran,
saya dan teman saya melangkah menuju ke dalam Pendapa Keraton
Mangkunegaran. Aturan yang berlaku disana adalah semua alas kaki
pengunjung harus dilepas. Budaya Jawa yang satu ini masih berlaku di
masyarakat suku Jawa. Sekarang saja kalau kita berkunjung ke saudara
yang bertempat tinggal di Jawa Timur atau Jawa Tengah pasti ada aturan
tak tertulis untuk melepas sandal atau sepatu sebelum masuk ruang tamu.
Dan kalau bicara adat Jawa di Kraton Mangkunegaran di kota Solo, maka
kita tidak akan lupa salah satu mitos yang berkembang mengenai tiang
pendapa Mangkunegaran. Ada sebuah mitos mengenai tiang pendapa di
Keraton Mangkunegaran. Bahwa barang siapa yang bisa melingkarkan kedua
tangannya ke tiang ini, dan kedua tangan itu dapat bertemu, maka
keinginan yang dipanjatkan akan terkabul.
Meski efek lingkaran tangan itu cuma mitos, tapi saya perhatikan
banyak wisatawan yang mencoba berdoa lalu merangkul tiang. Saya lihat
ada wisatawan yang bisa menyatukan tangan, tapi ada juga yang gagal.
Bagi yang berhasil melingkarkan tangan di tiang pendapa Mangkunegaran,
mereka tampak ceria karena yakin mimpinya bisa terkabul. Tapi buat
mereka yang gagal menyatukan tangan saat memeluk tiang pendapa, ada yang
terlihat sedikit kecewa. Untuk saya pribadi nggak percaya mitos
begituan dan nggak mau mencoba memeluk tiang segede itu. Hehehe.

Masjid di Keraton Mangkunegaran Solo
Mencicipi Wisata Kuliner di Kota Solo
Setelah puas melihat cagar budaya Kraton Mangkunegaran Solo, saya dan
kawan saya naik motor lagi membelah jalanan kota Solo yang ramai. Solo
memang tak sebesar kota
Semarang
yang menjadi ibukota Jawa Tengah. Tapi tetap saja Solo tak ketinggalan
membangun perekonomian mereka. Apalagi walikota mereka dikenal sangat
andal bekerja membangun daerah. Hasilnya, saat ini Solo menjadi salah
satu kabupaten/kota yang maju pesat.
Keraton Mangkunegaran kita tinggalkan. Berikutnya, dari arah Keraton
Mangkunegaran kami menyeberang menuju Jalan Slamet Riyadi dan sampai di
daerah Coyudan. Waktu itu perut sudah keburu lapar dan minta diisi.
Untungnya disana terdapat salah satu restoran fastfood favorit saya.
Makanannya nggak begitu menyehatkan sih, tapi tetap saja kalau acara
liburan gini makanan apa saja terasa enak di lidah. Antara kalap, lapar
dan hobi wisata kuliner bedanya tipis. Hehehe.
Selesai menghabiskan paket hemat fastfood, saya dan teman travelling
sepakat menuju Notosuman. Di Notosuman ada srabi yang terkenal enak
banget. Kalau berlibur ke tempat wisata di kota Solo nggak mampir ke
Notosuman terasa belum afdhol gitu. Srabi disana manis, legit, gurih dan
nggak bikin eneg. Hmm, sebenarnya ada banyak lokasi menarik lain yang
bisa kita jelajahi di kota Solo. Kali ini cukup sekian dulu. Kekayaan
budaya Jawa yang ada di kota Solo merupakan pendorong pertumbuhan iklim
wisata yang harus kita lestarikan. Mari kita cintai budaya daerah
sebagai akar budaya nasional. Ayo jalan-jalan ke kota Solo!