Friday, June 10, 2016

Jauhilah Fitnah Kedua Orang Ini

Di posting Oleh Fukuyama Masandhy


(Sofyan) bin Uyainah berkata, “Ada yang berkata, ‘Jauhilah fitnahnya orang berilmu (‘alim) yang suka syahwat (fajir) dan ahli ibadah (‘abid) yang bodoh, karena fitnah keduanya sangat menguji orang yang terfitnah”. Siapa yang merenungkan segala kerusakan yang ada, maka dapat disimpulkan bahwa sumbernya adalah kedua hal ini.

Dr. Abdullah As-Sulmi (Twittter : @DrAbdullahsulmi) - Twit Ulama

Toppo

Di posting Oleh Fukuyama Masandhy


Manga Gensō Suikoden III - The Successor of Fate. Toppo (Chian Star) adalah pemain biola yang bermain bersama dengan Nei dan Shabon. Ia percaya bahwa pelaku seni tidak harus berbicara, dan banyak orang berpikir dia aneh karena ia tidak berbicara dengan siapa pun kecuali dengan kolega, dan hanya bahkan berbisik kepada mereka. Ia berkeliling dunia dengan mereka, menghibur banyak orang di sepanjang jalan. (sumber : Suikosource dan Manga Gensō Suikoden III - The Successor of Fate karya Aki Shimizu, Kadokawa Corporation, Tokyo Japan 2002).

Pemuda Palestina yang Tewas Bersama Abd Al-Fattah Al-Sharif Juga ‘Dieksekusi’

Di posting Oleh Fukuyama Masandhy


BAYT LAHM, Kamis (Ma’an News Agency): Setelah rekaman yang dirilis organisasi HAM ‘Israel’, B’Tselem memicu kemarahan publik atas gaya eksekusi pembunuhan serdadu Zionis terhadap warga Palestina pada Maret lalu, para saksi mata mengatakan warga Palestina kedua yang dibunuh dalam kasus tersebut juga ditembak di bagian kepala. Demikian ungkap B’Tselem Senin (6/6) lalu. Dalam sebuah pernyataan, B’Tselem mengungkapkan bahwa hal itu diucapkan dua saksi mata dari Tel Rumeida wilayah sebelah selatan kota Al-Khalil, Tepi Barat terjajah, dimana Abd al-Fattah al-Sharif (21) dan Ramzi Aziz al-Qasrawi (21) ditembak dan dibunuh setelah keduanya dituduh menikam dan melukai ringan seorang serdadu Zionis di pos pemeriksaan militer 24 Maret lalu.
Sebuah video grafis yang dirilis B’Tselem mengabadikan momen ketika serdadu ‘Israel’ Elor Azarya menembak kepala al-Sharif yang tergeletak penuh luka di tanah sehingga tewas. Rekaman kematian al-Sharif memunculkan kecaman keras dari berbagai kelompok HAM dan lembaga-lembaga internasional, serta PBB menuntut penyelidikan terhadap serdadu yang terlihat melakukan “eksekusi ekstrayudisial.”
Namun, menurut informasi yang berhasil dihimpun peneliti lapangan B’Tselem, kesaksian dari penduduk Tel Rumeida terhadap kematian al-Qasrawi, yang tewas sebelum al-Sharif “meningkatkan kekhawatiran bahwa al-Qasrawi juga dieksekusi dengan tembakan ke kepala, saat ia tergeletak di tanah usai bagian lain tubuhnya ditembak.”
Menurut dua orang saksi mata, tambah B’Tselem, “setelah al-Sharif dan al-Qasrawi tergeletak penuh luka di jalanan –jelas mereka tidak bersikap membahayakan jiwa siapapun– dan sebelum pasukan tambahan dan paramedis tiba di tempat kejadian, seorang serdadu (atau perwira) berjalan ke arah al-Qasrawi dan menembaknya dua kali di leher dan kepala dari jarak beberapa meter.”
Akan tetapi, juru bicara militer ‘Israel’ menolak laporan terbaru B’Tselem itu. “Pernyataan yang dibuat oleh organisasi B’Tselem tidak konsisten dengan temuan penyelidikan operasional dan bertentangan dengan informasi yang didapatkan IDF mengenai kejadian ini. Menembak si penyerang dilakukan untuk menyingkirkan sikap mengancam si penyerang ketika ia menyerang pasukan keamanan dengan sebilah pisau,” kata juru bicara penjajah Zionis. Namun, rekaman yang diabadikan oleh para saksi mata setelah momen ketika al-Qasrawi –yang mengenakan baju hangat berwarna abu-abu– dikabarkan tewas menunjukkan, darah mengalir dari kepala pemuda Palestina itu.
Dalam sebuah laporan yang dirilis B’Tselem baru-baru ini, kelompok HAM ‘Israel’ itu menyatakan bahwa dari 739 pengaduan pelanggaran HAM yang dilakukan terhadap warga Palestina yang diajukan kepada lembaga-lembaga militer ‘Israel’, hanya tiga persen menghasilkan tuntutan terhadap para serdadu. Rekaman video terbaru yang muncul pada Rabu lalu menunjukkan, seorang sopir ambulans ‘Israel’ menendang sebilah pisau ke arah jenazah al-Sharif, yang nampaknya dilakukan untuk membenarkan klaim Azarya bahwa al-Sharif merupakan ancaman.
Cerita para saksi mata mengenai kematian al-Qasrawi juga akan menimbulkan keraguan atas klaim militer ‘Israel’ bahwa pembunuhan al-Sharif merupakan insiden tunggal yang tidak mencerminkan pedoman perilaku tetap militer ‘Israel’. “Sejak Oktober lalu ada banyak laporan perihal kebijakan yang mengizinkan shoot-to-kill dalam sejumlah insiden yang melukai warga Palestina. Padahal, serdadu Zionis tidak terancam bahaya mematikan atau jika berbahaya pun bisa diatasi tanpa memilih hasil yang mematikan,” tulis B’Tselem.
“Hingga saat ini, kasus-kasus tersebut hampir tidak pernah diinvestigasi, dan tidak ada warga sipil ‘Israel’ atau anggota pasukan keamanan Zionis menghadapi tuntutan karena melaksanakan kebijakan tersebut. Kasus Sersan Azaria, yang sidangnya masih sedang berlangsung, merupakan satu pengecualian,” tambah B’Tselem. “Akan tetapi, yang jauh lebih parah adalah kebijakan langsung tembak ini didukung penuh pejabat sipil senior dan militer. Otoritas pelaksanaan hukum ‘Israel’, baik militer dan sipil, lebih suka tidak berurusan dengan kasus-kasus seperti ini, malah mereka menutup mata dari kenyataan ini sehingga memberikan legitimasi untuk melanjutkannya.” *(Ma’an News Agency | Sahabat Al-Aqsha | Foto: B’Tselem)

Menyembunyikan Amalan

Di posting Oleh Fukuyama Masandhy


Nabi bersabda,
إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْعَبْدَ التَّقِىَّ الْغَنِىَّ الْخَفِىَّ

“Sesungguhnya Allah mencintai hamba yang bertakwa, hamba yang hatinya selalu merasa cukup, dan yang suka mengasingkan diri.” (HR Muslim no 2965)

Imam Asy Syafi’i رحمه الله mengatakan, “Sudah sepatutnya bagi seorang alim memiliki amalan rahasia yang tersembunyi, hanya Allah dan dirinya saja yang mengetahuinya. Karena segala sesuatu yang ditampakkan di hadapan manusia akan sedikit sekali manfaatnya di akhirat kelak.” (Ta’thirul Anfas min Haditsil Ikhlas)

----------
FP : Ma'had 'Umar bin Khattab Yogyakarta
web : mahadumar.id
twitter, instagram, dan telegram : @mubk_jogja
BBM : 595F4CAC

Nasihat Buat Pedagang

Di posting Oleh Fukuyama Masandhy


Di antara bentuk percampuran yang terpuji adalah tercampurnya perdagangan dengan sedekah. Disebutkan dalam hadits “Wahai para pedagang, jual beli selalu disertai dengan hal sia-sia dan sumpah palsu. Karena itu, bersihkanlah dengan sedekah” (Shahih Abu Dawud).

Syaikh Muhammad Shalih Al-Munajjid (Twittter : @almonajjid) - Twit Ulama

Menggenggam Bara Api

Di posting Oleh Fukuyama Masandhy


Pemateri: Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc
Lokasi: Masjid Nurul Iman, Blok M Square, Jakarta Selatan
Tanggal: Sabtu, 2 Shafar 1437H (14 November 2015M)
--------------------------------------
Rasulullah ﷺ telah mengabarkan sebuah kenyataan di akhir zaman dalam sabda beliau,
يَأْتِيْ عَلَى النَّاسِ زَمَانٌ الصَّابِرُ فِيْهِمْ عَلَى دِيْنِهِ كَالْقَابِضِ عَلَى الجَمْرِ
“Akan tiba suatu masa pada manusia, siapa di antara mereka yang bersikap sabar demi agamanya, ia ibarat menggenggam bara api.”
Seputar Hadits Hadits di atas diriwayatkan oleh al-Imam at-Tirmidzi (2/42) dan Ibnu Baththah di dalam al-Ibanah (1/173/2) dari sahabat mulia, Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu. Sanad hadits di atas memang dhaif, hanya saja ditemukan beberapa hadits lain yang bisa menguatkannya. Setelah menjelaskan hadits-hadits penguat, asy-Syaikh al-Albani (Silsilah Shahihah 2/682) menerangkan, ”Kesimpulannya, hadits di atas dihukumi shahih tsabit dengan adanya hadits-hadits penguat. Sebab, tidak ada satu pun perawi di seluruh jalur periwayatan hadits yang patut dicurigai. Apalagi at- Tirmidzi dan ulama lainnya menyatakan hadits ini hasan.Wallahu a’lam.”
Rasulullah ﷺ telah bersabda di dalam hadits Abu Hurairah ;
بَدَأَ الْإِسْلَامُ غَرِيبًا وَسَيَعُودُ كَمَا بَدَأَ غَرِيبًا فَطُوبَى لِلْغُرَبَاءِ
 “Islam mulai dalam keadaan terasing. Islam pasti akan kembali terasing sebagaimana permulaannya. Maka, Thuba untuk mereka yang terasing.” (HR. Muslim).
An-Nawawi rahimahumallah (dalam Syarah Shahih Muslim) menyebutkan beberapa penafsiran dari kata Thuba. Ada yang mengartikannya dengan kebahagiaan, penyejuk mata, kebaikan, surga, sebuah pohon di dalam surga, dan beberapa makna lain. Lalu an-Nawawi rahimahumallah menyimpulkan, “Semua pendapat di atas sangat mungkin untuk dipahami dari hadits di atas. Wallahu a’lam.”

Sebab-sebab Memegang Sunnah Bagai Memegang Bara Api
(1) Penentang-penentang yang kuat.

وَلَنْ تَرْضَىٰ عَنْكَ الْيَهُودُ وَلَا النَّصَارَىٰ حَتَّىٰ تَتَّبِعَ مِلَّتَهُمْ ۗ قُلْ إِنَّ هُدَى اللَّهِ هُوَ الْهُدَىٰ ۗ وَلَئِنِ اتَّبَعْتَ أَهْوَاءَهُمْ بَعْدَ الَّذِي جَاءَكَ مِنَ الْعِلْمِ ۙ مَا لَكَ مِنَ اللَّهِ مِنْ وَلِيٍّ وَلَا نَصِيرٍ
Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah: "Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang benar)". Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu. (QS. Al Baqarah [2]: 120).

Dalam ayat diatas dikatakan Yahudi dan Nashara menginginkan untuk mengikuti millah mereka (bukan dengan memeluk) yakni dengan mengikuti kebiasaan mereka, budaya mereka, pola pikir mereka (salah satunya filsafat) sedikit demi sedikit dan akhirnya meninggalkan ajaran Islam secara keseluruhan.

(2) Kaum muslimin sendiri tenggelam dalam urusan dunia dan tidak peduli akan urusan agamanya
Rasulullah ﷺ bersabda :
إذا تبايعتم بالعينة، وأخذتم بأذناب البقر، ورضيتم بالزرع، وتركتم الجهاد، سلط الله عليكم ذلا لا ينزعه حتى ترجعوا إلى دينكم
“Bila kamu telah disibukan oleh berjual beli dengan ‘inah (riba) dan kamu sibuk dengan sapi peliharaanmu dan engkau senang dengan cocok tanam dan kemudian engkau tinggalkan jihad, niscaya Allah Subhanahu Wa ta'ala timpakan pada diri kamu kehinaan yang tidak bisa lepas daripadanya sehingga kamu kembali kepada agama kamu."
(Hadis Shahih, diriwayatkan dari Ibnu Umar oleh Abu Dawud, as-Sunan, 3;274, Ahmad, al-Musnad, 2;28, 84, al-Baihaqi, Sunan al-Kubro, 5;316, Lihat Silsilah Ahadits Shahihah, al-Albani, nomor hadis 11)

عَنْ ثَوْبَانَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « يُوشِكُ الأُمَمُ أَنْ تَدَاعَى عَلَيْكُمْ كَمَا تَدَاعَى الأَكَلَةُ إِلَى قَصْعَتِهَا ». فَقَالَ قَائِلٌ وَمِنْ قِلَّةٍ نَحْنُ يَوْمَئِذٍ قَالَ « بَلْ أَنْتُمْ يَوْمَئِذٍ كَثِيرٌ وَلَكِنَّكُمْ غُثَاءٌ كَغُثَاءِ السَّيْلِ وَلَيَنْزِعَنَّ اللَّهُ مِنْ صُدُورِ عَدُوِّكُمُ الْمَهَابَةَ مِنْكُمْ وَلَيَقْذِفَنَّ اللَّهُ فِى قُلُوبِكُمُ الْوَهَنَ ». فَقَالَ قَائِلٌ يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَا الْوَهَنُ قَالَ « حُبُّ الدُّنْيَا وَكَرَاهِيَةُ الْمَوْتِ ».
Dari Tsauban, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Hampir saja para umat (yang kafir dan sesat, pen) mengerumuni kalian dari berbagai penjuru, sebagaimana mereka berkumpul menghadapi makanan dalam piring”. Kemudian seseorang bertanya,”Katakanlah wahai Rasulullah, apakah kami pada saat itu sedikit?” Rasulullah berkata,”Bahkan kalian pada saat itu banyak. Akan tetapi kalian bagai sampah yang dibawa oleh air hujan. Allah akan menghilangkan rasa takut pada hati musuh kalian dan akan menimpakan dalam hati kalian ’Wahn’. Kemudian seseorang bertanya,”Apa itu ’wahn’?” Rasulullah berkata,”Cinta dunia dan takut mati.”
(HR. Abu Daud no. 4297 dan Ahmad 5: 278, shahih kata Syaikh Al Albani. Lihat penjelasan hadits ini dalam ‘Aunul Ma’bud).

(3) Sedikitnya / lemahnya ilmu dan menyebarnya syubhat
Dari An Nu’man bin Basyir radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata bahwa ia mendengar Rasulullah ﷺ bersabda,
إِنَّ الْحَلاَلَ بَيِّنٌ وَإِنَّ الْحَرَامَ بَيِّنٌ وَبَيْنَهُمَا مُشْتَبِهَاتٌ لاَ يَعْلَمُهُنَّ كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ فَمَنِ اتَّقَى الشُّبُهَاتِ اسْتَبْرَأَ لِدِينِهِ وَعِرْضِهِ وَمَنْ وَقَعَ فِى الشُّبُهَاتِ وَقَعَ فِى الْحَرَامِ كَالرَّاعِى يَرْعَى حَوْلَ الْحِمَى يُوشِكُ أَنْ يَرْتَعَ فِيهِ أَلاَ وَإِنَّ لِكُلِّ مَلِكٍ حِمًى أَلاَ وَإِنَّ حِمَى اللَّهِ مَحَارِمُهُ
“Sesungguhnya yang halal itu jelas, sebagaimana yang haram pun jelas. Di antara keduanya terdapat perkara syubhat -yang masih samar- yang tidak diketahui oleh kebanyakan orang. Barangsiapa yang menghindarkan diri dari perkara syubhat, maka ia telah menyelamatkan agama dan kehormatannya. Barangsiapa yang terjerumus dalam perkara syubhat, maka ia bisa terjatuh pada perkara haram. Sebagaimana ada pengembala yang menggembalakan ternaknya di sekitar tanah larangan yang hampir menjerumuskannya. Ketahuilah, setiap raja memiliki tanah larangan dan tanah larangan Allah di bumi ini adalah perkara-perkara yang diharamkan-Nya.
(HR. Bukhari no. 2051 dan Muslim no. 1599)

Cara Selamat Dari Fitnah Ini
(1) Menuntut Ilmu syar'i
Nabi ﷺ :
إِنَّكُمْ أَصْبَحْتُمْ فِي زَمَانٍ كَثِيْرٍ فُقَهَاؤُهُ، قَلِيْلٍ خُطَبَاؤُهُ، قَلِيْلٍ سُؤَّالُهُ، كَثِيْرٍ مُعْطُوهُ، الْعَمَلُ فِيْهِ خَيْرٌ مِنَ الْعِلْمِ. وَسَيَأْتِي زَمَانٌ قَلِيْلٌ فُقَهَاؤُهُ، كَثِيْرٌ خُطَبَاؤُهُ، كَثِيْرٌ سُؤَّالُهُ، قَلِيْلٌ مُعْطُوهُ،الْعِلْمُ فِيْهِ خَيْرٌمِنَ الْعَمَلِ
“Sesungguhnya kalian hidup di zaman yang fuqahanya (ulama) banyak dan penceramahnya sedikit, sedikit yang minta-minta dan banyak yang memberi, beramal pada waktu itu lebih baik dari berilmu. Dan akan datang suatu zaman yang ulamanya sedikit dan penceramahnya banyak, peminta-minta banyak dan yang memberi sedikit, berilmu pada waktu itu lebih baik dari beramal.” (HR. Ath-Thabrani).

(2) Selalu meminta pendapat ulama
Rasûlullâh ﷺ bersabda,
ثَـلَاثٌ مُهْلِكَاتٌ : شُحٌّ مُطَاعٌ، وَهَوًى مُتَّبَعٌ، وَإِعْجَابُ الْمَرْءِ بِنَفْسِهِ
"Tiga perkara yang membinasakan (yaitu) kikir (pelit) yang ditaati, hawa nafsu yang diikuti, dan takjubnya seseorang terhadap dirinya sendiri (pemikiran/ro'yu)". (Hasan : HR. ath-Thabrani dalam al-Mu’jamul Ausath (no. 5448), al-Baihaqi dalam asy-Syu’abul Îmân (no. 731), dan selainnya dari Anas bin Mâlik Radhiyallahu ‘anhu . Diriwayatkan juga dari Shahabat yang lainnya. Lihat Silsilah al-Ahâdîts ash-Shahîhah (no. 1802))

(3) Selalu bersabar dalam agama Islam
Beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
إِنَّكُمْ سَتَلْقَوْنَ بَعْدِيْ أَثَرَةً فَاصْبِرُوْا حَتَّى تَلْقَوْنِيْ عَلَى الْحَوْضِ
“Sesungguhnya kalian nanti akan menemui atsarah (yaitu : pemerintah yang tidak memenuhi hak rakyat. Maka bersabarlah hingga kalian menemuiku di haudl” [HR. Al-Bukhari no. 7057 dan Muslim no. 1845].

Al-Imam An-Nawawi rahimahullah berkata :
فيه الحث على السمع والطاعة وإن كان المتولي ظالماً عسوفاً، فيعطي حقه من الطاعة، ولا يخرج عليه، ولا يخلع، بل يتضرع إلي الله – تعالي – في كشف أذاه، ودفع شره، وإصلاحه
“Di dalam (hadits) ini terdapat anjuran untuk mendengar dan taat kepada penguasa, walaupun ia seorang yang dhalim dan sewenang-wenang. Maka berikan haknya (sebagai pemimpin) yaitu berupa ketaatan, tidak keluar ketaatan darinya, dan tidak menggulingkannya. Bahkan (perbuatan yang seharusnya dilakukan oleh seorang muslim adalah) dengan sungguh-sungguh lebih mendekatkan diri kepada Allah ta’ala supaya Dia menyingkirkan gangguan/siksaan darinya, menolak kejahatannya, dan agar Allah memperbaikinya (kembali taat kepada Allah meninggalkan kedhalimannya)” [Syarh Shahih Muslim lin-Nawawi, 12/232].

Sabar ada tiga hal menurut para ulama :
  1. Sabar dalam ketaatan. Kesabaran dengan berusaha istiqamah dalam menjalankan amalan secara istiqamah.
  2. Sabar meninggalkan kemaksyiatan. Berusaha tetap meninggalkan kemaksiyatan meskipun didapati mudah disekitar kita.
  3. Sabar dalam menghadapi kesulitan hidup. 

(4) Menjauhi tempat-tempat yang banyak syubhat dan fitnah
Dari An Nu’man bin Basyir radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata bahwa ia mendengar Rasulullah ﷺ bersabda,
إِنَّ الْحَلاَلَ بَيِّنٌ وَإِنَّ الْحَرَامَ بَيِّنٌ وَبَيْنَهُمَا مُشْتَبِهَاتٌ لاَ يَعْلَمُهُنَّ كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ فَمَنِ اتَّقَى الشُّبُهَاتِ اسْتَبْرَأَ لِدِينِهِ وَعِرْضِهِ وَمَنْ وَقَعَ فِى الشُّبُهَاتِ وَقَعَ فِى الْحَرَامِ كَالرَّاعِى يَرْعَى حَوْلَ الْحِمَى يُوشِكُ أَنْ يَرْتَعَ فِيهِ أَلاَ وَإِنَّ لِكُلِّ مَلِكٍ حِمًى أَلاَ وَإِنَّ حِمَى اللَّهِ مَحَارِمُهُ
“Sesungguhnya yang halal itu jelas, sebagaimana yang haram pun jelas. Di antara keduanya terdapat perkara syubhat -yang masih samar- yang tidak diketahui oleh kebanyakan orang. Barangsiapa yang menghindarkan diri dari perkara syubhat, maka ia telah menyelamatkan agama dan kehormatannya. Barangsiapa yang terjerumus dalam perkara syubhat, maka ia bisa terjatuh pada perkara haram. Sebagaimana ada pengembala yang menggembalakan ternaknya di sekitar tanah larangan yang hampir menjerumuskannya. Ketahuilah, setiap raja memiliki tanah larangan dan tanah larangan Allah di bumi ini adalah perkara-perkara yang diharamkan-Nya.” (HR. Bukhari no. 2051 dan Muslim no. 1599).

(5) Berusaha memahami hakikat dunia untuk beribadah

Thursday, June 9, 2016

Larangan Menyampaikan Berita, kecuali Dikhawatirkan Bahayanya

Di posting Oleh Fukuyama Masandhy


Ibn Mas’ud r.a. berkata : Rasulullah sa.w bersabda : Jangan ada orang yang menyampaikan kepadaku dari hal sahabatku sesuatu apapun, sebab saya lebih suka keluar kepada kamu dengan dada yang bersih. (HR. Abu Dawud dan Attirmidzy).
----------------------
Tarjamah RIADHUS SHALIHIN II, Salim Bahreisy, Penerbit PT Alma’arif Bandung, Cetakan keempat 1979, halaman 414.