Thursday, June 9, 2016

Sebab Datangnya Pertolongan Rizki

Di posting Oleh Fukuyama Masandhy


Bersedekah dan memenuhi kebutuhan orang-orang miskin adalah sebab datangnya pertolongan dan rezeki. Rasulullah ﷺ bersabda, “Sesungguhnya kalian akan dimenangkan dan diberikan rizki karena sebab orang-orang lemah di antara kalian” (Shahih)

Dr. Muhammad bin Abdurrahman Al-‘Arifi (Twittter : @MohamadAlarefe) - Twit Ulama

Dokter Perempuan Palestina Ini Disekap di Sel Isolasi

Di posting Oleh Fukuyama Masandhy


AL-KHALIL, Kamis (PIC): Saat warga Indonesia menikmati ibadah puasa Ramadhan dengan nyaman, Sabreen Waleed Abu Sharar (27), seorang dokter Palestina justru menjalaninya di dalam sel isolasi. Ini merupakan tahun kedua ia menjalankan ibadah puasa di penjara ‘Israel’. Pengadilan penjajah ‘Israel’ memperpanjang masa penahanannya untuk kali kesepuluh dan menunda sidangnya pada 15 Juli. Kabarnya sejak hari pertama Ramadhan Sabreen berada dalam sel isolasi penjara ‘Israel’, Ashkelon, serta mengalami penyiksaan psikis dan fisik.
Terisolasi dalam ruang dan waktu, Sabreen tidak bisa mendengar suara adzan yang menandakan waktu berbuka puasa dan sebagainya. “Sabreen tidak bisa membedakan antara siang dan malam karena kondisi gelap gulita yang harus ia tahan di sel isolasi. Ia berdoa pada Allah dengan cucuran airmata dan luka di hatinya agar dibebaskan secepat mungkin,” kata keluarganya. Pihak keluarga juga menyatakan mereka dilarang mengunjungi Sabreen sejak 7 Juni 2015.
Menurut Pusat Media Tawanan, Sabreen menjalani interogasi yang melelahkan di rumahnya di Dura pada hari penangkapannya. “Gema suara para serdadu ketika mengancam Sabreen dengan penahanan dan penyiksaan terdengar semalaman sebelum ia dibawa ke tempat yang tidak diketahui tanpa pemberitahuan terlebih dahulu,” ungkap Pusat Media Tawanan. “Sejak ia ditahan, Sabreen menghadiri sejumlah sidang pemeriksaan. Setiap kali pemeriksaan, otoritas penjajah Zionis memperpanjang penahanannya dengan alasan prosedur hukum yang belum lengkap,” kata ayahnya.
Sabreen kembali ke wilayah Palestina terjajah setelah menghabiskan enam tahun di Mesir untuk melanjutkan studi kedokterannya. Ia bergabung dengan rumah sakit umum Alya di al-Khalil sebagai dokter magang. Namun, ia ditahan lima bulan kemudian.* (PIC | Sahabat Al-Aqsha)


Jagalah Saat Puasa !

Di posting Oleh Fukuyama Masandhy


أربعةٌ تؤثر في الصيام: 
1- ماتبصره (العين) 
2- ماتسمعه (الأذن) 
3- ماتأكله (البطن) 
4- مايتلفظ به (اللسان)
 فانتبه لها كي (تنتفع بصيامك)…

4 hal yang berpengaruh pada puasa:
1. Yang dilihat mata
2. Yang didengar telinga,
3. Yang dimakan perut, dan
4. Yang diucap lisan

Jagalah ini!

Dr. Bassam asy-Syaththi dosen pengajar akidah dan dakwah di Universitas Kuwait. 20/2/2016 (Twittter : @BassamAlshatti) - Twit Ulama

Kiblat itu Ka'bah

Di posting Oleh Fukuyama Masandhy


Di dalam al-Qur'an surat al-Baqarah (2) : 142 - 144, Allah ta'ala menegaskan kepada orang beriman dalam firman-Nya :

سَيَقُولُ السُّفَهَآءُ مِنَ النَّاسِ مَا وَلَّىٰهُمْ عَن قِبْلَتِهِمُ الَّتِى كَانُوا۟ عَلَيْهَا ۚ قُل لِّلَّهِ الْمَشْرِقُ وَالْمَغْرِبُ ۚ يَهْدِى مَن يَشَآءُ إِلَىٰ صِرٰطٍ مُّسْتَقِيمٍ
Orang-orang yang bodoh diantara manusia akan berkata, "Apakah gerangan (sebabnya) mereka (orang Islam) beralih dari kiblat mereka semula (dari Baitil Maqdis ke Masjidil Haram)?" Katakanlah, "Timur dan Barat kepunyaan Allah, Dia memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya ke jalan yang lurus". (142).

وَكَذٰلِكَ جَعَلْنٰكُمْ أُمَّةً وَسَطًا لِّتَكُونُوا۟ شُهَدَآءَ عَلَى النَّاسِ وَيَكُونَ الرَّسُولُ عَلَيْكُمْ شَهِيدًا ۗ وَمَا جَعَلْنَا الْقِبْلَةَ الَّتِى كُنتَ عَلَيْهَآ إِلَّا لِنَعْلَمَ مَن يَتَّبِعُ الرَّسُولَ مِمَّن يَنقَلِبُ عَلَىٰ عَقِبَيْهِ ۚ وَإِن كَانَتْ لَكَبِيرَةً إِلَّا عَلَى الَّذِينَ هَدَى اللَّـهُ ۗ وَمَا كَانَ اللَّـهُ لِيُضِيعَ إِيمٰنَكُمْ ۚ إِنَّ اللَّـهَ بِالنَّاسِ لَرَءُوفٌ رَّحِيمٌ
Dan demikian pula Kami menjadikan kamu ummat penengah (pilihan) agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia, dan adalah  Rasul (Muhammad) itu menjadi saksi atas kamu. Dan Kami tidak menjadikan kiblat yang menjadi kiblat kamu (sekarang) melainkan agar Kami mengetahui siapa yang mengikuti Rasul dan siapa yang berbalik ke belakang. Dan sungguh (perpindahan) kiblat itu amat berat, kecuali bagi orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah. Dan Allah tidak menyia-nyiakan iman kamu. Sesungguhnya Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada manusia. (143).

قَدْ نَرَىٰ تَقَلُّبَ وَجْهِكَ فِى السَّمَآءِ ۖ فَلَنُوَلِّيَنَّكَ قِبْلَةً تَرْضَىٰهَا ۚ فَوَلِّ وَجْهَكَ شَطْرَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ ۚ وَحَيْثُ مَا كُنتُمْ فَوَلُّوا۟ وُجُوهَكُمْ شَطْرَهُۥ ۗ وَإِنَّ الَّذِينَ أُوتُوا۟ الْكِتٰبَ لَيَعْلَمُونَ أَنَّهُ الْحَقُّ مِن رَّبِّهِمْ ۗ وَمَا اللَّـهُ بِغٰفِلٍ عَمَّا يَعْمَلُونَ
Sesungguhnya Kami melihat wajahmu menengadah ke langit, maka sungguh kami palingkan engkau (kearah) kiblat yang engkau menyukainya. Maka palingkanlah wajahmu kearah Masjidil Haram. Dan dimana saja kamu berada, maka palingkanlah wajahmu kearahnya. Dan sesungguhnya orang-orang yang diberi al-Kitab (Taurat dan Injil) mengetahui bahwa (berkiblat ke Masjidil Haram) adalah benar dari Tuhan mereka, dan Allah tidak lalai dari apa yang mereka kerjakan. (144).

Asbabun Nuzul
Dalam suatu riwayat yang bersumber dari al-Barra dikemukakan bahwa Rasulullah ﷺ sholat menghadap ke Baitul Maqdis, dan sering melihat ke langit menunggu perintah Allah (mengharap kiblat diarahkan ke Ka'bah atau Masjidil Haram) sehingga turunlah ayat tersebut diatas (QS. 2 : 144) yang menunjukkan kiblat ke Masjidil Haram. Sebagian kaum Muslimin berkata : "Inginlah kami ketahui tentang orang-orang yang telah meninggal sebelum perpindahan kiblat (dari Baitil-Maqdis ke Ka'bah), dan bagaimana pula tentang sholat kami sebelum ini, ketika kami menghadap ke Baitul-Maqdis?" Maka turunlah ayat lainnya (QS. 2 : 143), yang menegaskan bahwa Allah tidak akan menyia-nyiakan iman mereka yang beribadah menurut ketentuan waktu itu. Orang-orang yang berpikir kerdil di masa itu berkata : "Apa pula yang memalingkan mereka (kaum Muslimin) dari kiblat yang mereka hadapi selama ini (dari Baitil-Maqdis ke Ka'bah)? Maka turunlah ayat lainnya lagi (QS. 2 : 142) sebagai penegasan bahwa Allahlah yang menentukan arah kiblat itu. (HR. Ibnu Ishaq).

Tafsir Ayat
QS. 2 : 142. "Orang-orang yang bodoh diantara manusia akan berkata, "Apakah gerangan (sebabnya) mereka (orang Islam) beralih dari kiblat mereka semula (dari Baitil Maqdis ke Masjidil Haram)?"...". Setelah Rasulullah ﷺ berhijrah ke Madinah, kiblat yang beliau hadapi ilah Baitul Maqdis. Setelah 16 atau 17 bulan, lalu dipalingkan kiblat itu ke Ka'bah. Di dalam ayat ini telah diperingatkan kepada Rasulullah ﷺ bahwa sebelum kiblat itu beralih maka orang-orang yang bodoh di kalangan manusia itu akan menjadikannya percakapan yang ribut. Di dalam ayat ini disebut sufahaau sebagai kata jama' dari safih, yaitu orang-orang bodoh yang berpikiran dangkal yang bercakap asal bercakap saja, tetapi tidak sanggup mempertanggung-jawabkan apa yang diucapkannya. "... Katakanlah, "Timur dan Barat kepunyaan Allah, ...". Artinya bahwasannya disisi Tuhan, baik barat ataupun timur, baik utara ataupun selatan adalah sama saja. Soal peralihan tempat bukanlah soal penempatan Tuhan di salah satu tempat. "..., Dia memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya ke jalan yang lurus". Tujuan yang terutama dari beralih atau tetapnya kiblat adalah tujuan hati, yaitu memohon petunjuk jalan yang lurus kepada Tuhan, yang Tuhan bersedia memberikannya kepada siapa yang Dia kehendaki.
QS. 2 : 143. "Dan demikian pula Kami menjadikan kamu ummat penengah (pilihan) ...". Ada dua ummat yang datang sebelum ummat Muhammad, yaitu ummat yahudi dan ummat nasrani. Terkenallah dalam perjalanan ummat-ummat itu, ummat yahudi terlalu condong kepada dunia, benda dan harta. Sebaliknya ajaran nasrani lebih mementingkan akhirat saja, meninggalkan kemegahan dunia, sampai mendirikan biara-biara tempat bertapa, dan menganjurkan pendeta-pendeta supaya tidak kawin. Islam datang mempertemukan kembali diantara kedua jalan hidup ini. Didalamnya ibadat sholat jelas pertemuaan keduanya; sholat dikerjakan dengan badan, melakukan berdiri ruku' dan sujud, tetapi semuanya itu hendaklah dengan hati yang khusyu'. Dalam peraturan zakat harta benda. Orang baru dapat berzakat apabila dia kaya raya dan cukup menurut bilangan nisab. Dan bila datang waktunya hendaklah dibayarkan kepada fakir-miskin. Artinya, carilah harta benda dunia ini sebanyak-banyaknya dan kemudian berikanlah sebahagian daripadanya untuk menegakkan amal dan ibadat kepada Allah dan untuk membantu orang yang patut dibantu. Selama ummat Muhammad ini masih menempuh shiratal-Mustaqim, jalan lurus itu, selama itu pula mereka akan tetap menjadi ummat jalan tengah. ".... agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia, ...". menurut imam az-Zamakhsyari, ummat Muhammad sebagai ummat yang jalan tengah akan menjadi saksi atas ummat nabi-nabi yang lain tentang kebenaran risalah rasul-rasul yang telah disampaikan kepada ummat mereka masing-masing. "..., dan adalah  Rasul (Muhammad) itu menjadi saksi atas kamu. ...". Kelak Rasulullah Muhammad menjadi saksi pula di hadapan Tuhan, sudahkah menjalankan tugas kamu itu dengan baik, ataukah kamu campuadukkan yang hak dengan yang batil, sebab sifat tengahmu itu telah hilang. ".... Dan Kami tidak menjadikan kiblat yang menjadi kiblat kamu (sekarang) ...". Yaitu kiblat ke Baitul Maqdis lalu dialihkan ke Ka'bah di Mekkah. "... melainkan agar Kami mengetahui siapa yang mengikuti Rasul dan siapa yang berbalik ke belakang. ...". Dengan peralihan kiblat ini terbuktilah mana orang yang bertahan pada ujung, yang selama ini menunjukkan suka kepada Rasul lantaran kiblat menuju tempat yang disukai orang yahudi. Dan tantangan pula bagi kaum munafik. "... . Dan sungguh (perpindahan) kiblat itu amat berat, kecuali bagi orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah. ...". "... . Dan Allah tidak menyia-nyiakan iman kamu. ...". Artinya, bahwasannya orang-orang yang telah mati, sedangkan dikala hidupnya mereka sholat berkiblat ke Baitul Maqdis. Amalan yang timbul karena iman tidaklah akan disia-siakan. Ketaatan mereka yang khusyu' diterima sebaik-baiknya. "... . Sesungguhnya Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada manusia". Ujung ayat teranglah dua sifat Allah yang penting untuk pedoman beramal. Pertama Tuhan Penyantun, tidak menyia-nyiakan amal hamba-Nya. Kedua, Dia Penyayang, memberi ganjaran yang sepadan atas tiap-tiap amalan.
QS. 2 : 144. "Sesungguhnya Kami melihat wajahmu menengadah ke langit, ...". Bahwasannya Kami (Allah) telah memperhatikan engaku (Muhammad) yang selalu menengadah ke langit mengharap moga-moga Tuhan mengizinkan engkau mengalihkan kiblat ke Ka'bah. Setiap kali Rasulullah ﷺ sholat, beliau berharap kiblat dialihkan ke Ka'bah. Tiap malaikat Jibril turun dari langit atau naik kembali selalu Rasulullah mengikuti dengan pandangannya, menunggu bilakah datang perintah Tuhan tentang peralihan kiblat itu. "..., maka sungguh kami palingkan engkau (kearah) kiblat yang engkau menyukainya. ...". Suatu keinginan yang timbul sebagai suatu risalah yang beliau bawa ke dunia ini, menyempurnakan ajaran yang dibawa nabi Ibrahim. Sebab "Wadin ghairi dzi-zar'in" atau lembah yang tidak ditumbuhi tumbuhan di dekat rumah Allah yang suci itu adalah pokok tempat bertolak pertama dari nabi Ibrahim seketika beliau memulai risalahnya. Rumah yang jadi pusat pertama dari seluruh masjid tempat menyembah Allah yang Tunggal. ".... Maka palingkanlah wajahmu kearah Masjidil Haram. ...". Dengan perintah ayat ini, maka mulai seketika itu beralih kiblat dari Baitul Maqdis (rumah suci) yang di Palestina (Qudus) yang didirikan oleh nabi Sulaiman kepada Masjidil-Haram yang didirikan oleh nabi Ibrahim, nenek moyang Sulaiman dan nenek moyang Muhammad ﷺ yang berdiri di Mekkah. ".... Dan dimana saja kamu berada, maka palingkanlah wajahmu kearahnya. ...". Dan dalam lanjutan perintah "kamu" ditujukan kepada seluruh ummat nabi Muhammad, ummat yang istimewa, ummatan wasathan, ummat jalan tengah. ".... Dan sesungguhnya orang-orang yang diberi al-Kitab (Taurat dan Injil) mengetahui bahwa (berkiblat ke Masjidil Haram) adalah benar dari Tuhan mereka, ...". Artinya orang-orang ahlul-kitab (yahudi dan nasrani) terutama yang tinggal di Madinah seketika ayat ini turun, mengetahui bahwa memang dari Ka'bah itu nabi Ibrahim sebagai nenek moyang bangsaSyam (Semiet) yang menurunkan bani israil dan bani israil memulai perjuangannya menegakkan Tauhid, kepercayaan tentang keesaan Tuhan. "..., dan Allah tidak lalai dari apa yang mereka kerjakan". Kesediaan dan kesetiaan kamu segera mengalihkan kiblat karena perintah Tuhan telah datang tidaklah lengah atau diabaikan oleh Tuhan. Bahkan sangat dihargai karena pelaksanaan perintah Allah dengan segera adalah alamat iman yang teguh.
---------------
Bibliography :
Asbabun Nuzul, KH Qomaruddin, Penerbit CV. Diponegoro Bandung, Cetakan ke-5, 1985, halaman 46 - 47.
Tafsir Al-Azhar Juzu' 2, Prof Dr. Haji Abdulmalik Abdulkarim Amrullah (Hamka), Penerbit PT. Pustaka Panjimas Jakarta, cetakan September 1987, halaman 5 - 10.
Al Qur'an Terjemahan Indonesia, Tim DISBINTALAD (Drs. H.A. Nazri Adlany, Drs. H. Hanafie Tamam dan Drs. H.A. Faruq Nasution); Penerbit P.T. Sari Agung Jakarta, cetakan ke tujuh 1994, halaman 39 - 40.

Islam Akan Tetap Kokoh

Di posting Oleh Fukuyama Masandhy


Sejarah masa lampau dan masa kini diwarnai peperangan fisik maupun pemikiran untuk menghancurkan Islam, akan tetapi Alhamdulillah, Islam malah semakin maju dan semakin kokoh “Tetapi Allah justru menyempurnakan cahaya-Nya” (QS. Ash Shaff : 8).

Dr. Abdullah Al-Syurikah (Twittter : @DrAlshoreka) - Twit Ulama

Dokter Agama

Di posting Oleh Fukuyama Masandhy


Orang yang ber-amar-ma'ruf, merekalah dokter agama, yang menyembuhkan hati yang sakit dan menunjuki yang tersesat -Ibnu Taimiyah

Dr. Ibrahim al-Faaris (Twittter : @ibrahim_alfares) - Twit Ulama

Wednesday, June 8, 2016

Mengapa Manusia Membicarakan Dirimu?

Di posting Oleh Fukuyama Masandhy


Manusia membicarakan dirimu pada tiga keadaan :
  1. Tatkala mereka tidak memiliki apa yang engkau miliki,
  2. Ketika mereka tak kuasa menjadi seperti dirimu,
  3. Saat mereka tak mampu mencapai dirimu!
Dr. Muhammad Majdu’ asy-Syahri (Twittter : @mmajdo) - Twit Ulama