Friday, June 29, 2018

MENDAKI GUNUNG SUMBING VIA BOWONGSO : Sabananya bikin adem!


Ajakan beberapa teman untuk mendaki gunung sumbing sepertinya harus saya iya-kan, puncak tertinggi kedua setelah Gunung Slamet menjadi magnet bagi saya untuk mengangkat kerir saya lagi. Sempat bingung awalnya karena memilih jalur mana yang akan saya pilih. Antara Bowongso atau Banaran? Keduanya bagiku sama sama epic sih setelah beberapa kali membaca dan menonton pendakian gunung sumbing di youtube. Sebenarnya ada beberapa jalur untuk menuju ke puncak sumbing, bisa melewati jalur garung, kaliangkrik, banaran, bowongso, sipetung dan cepit. Eits, tanpa mengurangi rasa hormat bukan berarti jalur lain tidak menarik ya hehe.

“Lur, bowongso kayaknya bagus nih sabananya kaya di rinjani lur!”
“sunsetnya juga kayanya boleh nih dicoba”

obrolan grup  whatsapp teman saya ketika sedang membahas jalur mana yang akan dipilih.


gunung sindoro dilihat dari belakang basecamp bowongso


Kami berempat sepakat untuk memilih jalur Bowongso yang berada di Desa Bowongso, Kecamatan Kalikajar, Kabupaten Wonosobo. Menyusuri malam jalanan sepanjang Purwokerto – Wonosobo ketika sedang ramai-ramainya arus balik lebaran (18/06/2018). Menginap semalam di basecamp bowongso adalah rencana kami sebelum paginya memulai untuk trekking. Jalur sepanjang jalan raya utama menuju basecamp tergolong rusak dan minim penerangan. Namun ada yang lebih menarik dari Desa Bowongso, beberapa rumah dan pinggiran jalan dihiasi dengan lampu-lampu kerlap kerlip seperti sedang perayaan 17 agustus. Sedikit berbeda dengan desa yang memiliki cuaca yang dingin lainnya, masyarakat bowongso saling berbagi kehangatan di luar rumah ketika malam hari.

Setibanya di basecamp, kami disambut dengan hangat oleh beberapa warga serta pengurus basecamp. Terlihat motor terparkir rapi di depan Kantor Kepala Desa Bowongso. Sempat bingung karena tidak ada papan bertuliskan basecamp, ternyata antara Gedung Kantor Kepala Desa, Sekolah Dasar, dan Basecamp Bowongso ini menjadi satu gedung. Helm kami pun langsung dititipkan oleh pihak basecamp dan mencatat nama penitip helm tersebut. Tempat untuk transit semalam kami lumayan luas, bisa ditampung sekitar 30-40 pendaki dan disediakan pula tuh bagi yang lapar ada warung di dalam basecamp serta stop kontak yang lumayan banyak.

tertidur menunggu pagi

blur // tempat transit semalam


Pagi harinya, beberapa pendaki sudah mulai memadati tempat transit kami semalam. Sebelum sarapan dan memulai pendakian saya mengisi buku registrasi terlebih dahulu serta membayar Rp 10.000 untuk satu orangnya. Kami dibekali kopi bowongso dan air kelapa dengan dibungkus plastic kecil, katanya sih ini sebagai adat desa bowongso dan jangan sampai hilang kecuali hilang karena tidak disengaja.
“setelah melewati pos 2 ini sudah mulai area terbuka tidak ada pepohonan yang bisa untuk berteduh dan disarankan untuk mendirikan tenda di camp gajahan atau di pos 2” jelas bapak basecamp.

Basecamp – Parkiran Swadas
Kami memulai pendakian dari basecamp menuju parkiran swadas jam 7.30 pagi. Sempat mendapat penawaran untuk memakai jasa ojek untuk sampai ke parkiran swadas yang hanya 10-15 menit dengan biaya Rp 15.000 per orang ketimbang harus jalan kaki.

“mengko wae pas baline dewe ngojek, saiki staminane juga iseh strong” ujar henda

Terpikir pula kami membawa bumbu mendhoan tapi lupa tidak membawa tempe! Lol. Sempat beberapa warung kami hampiri sembari berjalan menuju parkiran swadas dan tidak ada yang berjualan tempe saat itu. Setelah keluar dari pemukiman warga, kiri kanan kami ditemani oleh perkebunan kopi khas bowongso beserta tembakau.  Sempat bercengkrama dengan seseorang yang terlihat ketika kami sedang break ditengah perjalanan, petani itu sedang memetik tembakau milik kebunnya sendiri,

puncak masih jauh



“Warga sini kebanyakan menggantungkan pada perkebunannya mas baik tembakau atau kopi itu sendiri” ujar petani tembakau tersebut.

Di tempat kami beristirahat, terlihat puncak masih sangatlah jauh. Terlebih berkali-kali ojek melintasi jalan menuju parkiran swadas dengan membawa tas besar didepan dan pendaki gonceng di belakang. Gimana menurutmu, ketika sedang capek-capeknya jalan kemudian ada ojek yang lewat dan memberi sapaan Monggo Masss….
Setelah sekitar 1,5 jam berjalan kaki dari basecamp, sampailah di parkiran swadas dengan ketinggian 1800 mdpl.

Parkiran Swadas – POS 1
Disinilah semua pendaki yang menggunakan jasa ojek diturunkan, dan kami lega karena sudah tidak ada pendaki yang melintas menggunakan jasa ojek ketika kami sedang berjalan HAHA. Jalur masih bisa dilewati menggunakan motor, dan hanya warga sekitarlah yang boleh sampai ke perkebunan setelah parkiran swadas. Tak lama kami menemui sebuah gazebo yang didirakan diatas bukit, yaitu gardu pandang. Biasanya pendaki lebih suka beristirahat di gardu pandang sembari melihat kota wonosobo dan gunung sindoro di depannya.



Menuju Pos 1  jalur sudah memasuki hutan lindung. Sepertinya kami salah jalur, karena kami dimanjakan dengan jalanan landai dan kanan kiri hanya ada perkebunan tembakau dan tidak ada tanjakan sama sekali. Beruntung ada sepasang pendaki yang kami temui di wadas gantung, dan kami memanggilnya kembali. Jangan sampai salah jalur, karena setelah gardu pandang terdapat 2 jalur akses yaitu menuju perkebunan dengan jalanan berbatu serta landai atau menuju ke jalur menuju pos 1 dengan jalur menanjak, karena tidak adanya papan petunjuk jadi harus lebih teliti lagi. Perjalanan dari parkiran swadas menuju pos 1 memakan waktu 1,5 jam.

Pos 1 – Pos 2
Setibanya di Pos 1 atau dinamakan Taman Asmara bisa sedikit untuk beristirahat dan meminum air mineral yang saya bawa disebalah kiri tas carrier. Entah kenapa dinamain taman asmara, padahal ya gak ada romantis romantisnya hehe. Masih ada beberapa tanaman tembakau yang ditanami diarea ini. juga terdapat gubuk sebagai tempat istirahat petani tembakau. Jalur semakin menanjak dengan rimbunnya pepohonan yang menutupi. Jadi, pohon gunung sumbing via bowongso ini lebih identik dengan lumut berwarna orange. Kabut semakin turun walaupun jam menunjukkan 13.15, beberapa pendaki yang turun dari kota Cilacap saling menyapa.

Pos 1 | Taman Asmara

Tembakau


pohonnya itu sleepable banget

“ayo semangat sebentar lagi Pos 2 di depan” sapaan semangat dari pendaki ngapak itu.
Sebenarnya percaya tidak percaya sih dengan sapaan yang katanya puncak sebentar lagi tapi kenyataannya? Tanjakan demi tanjakan harus dilalui dengan panas matahari yang menyengat.

Pos 2 – Camp Gajahan
Total sudah 7 jam perjalanan dari basecamp ke Pos 2, akhirnya sabana hijau terbentang luas sudah mulai terlihat dari tempat kita berteduh dan memakan jajanan sisa lebaran kemarin. Beberapa tenda juga masih berdiri dan ada pula yang sedang bergegas turun.  Banyak yang sedang mengisi ulang air dengan botol mereka yang kosong karena terdapat sumber air walaupun sedikit dan kotor.

Sabana diambil ketika sedang beristirahat sebelum pos 2

Selama kurang lebih 30 menit kami bersantai-santai di pohon rindang sebelum Pos 2, tak lama kami menuju ke camp gajahan. Awalnya ragu karena beberapa pendaki bilang kalau mendirikan tenda di camp gajahan anginnya terlalu kencang apalagi di musim kemarau. Menjadi bahan pertimbangan, antara summit dengan waktu yang lebih singkat atau harus berhadapan dengan angin kencang karena memang di camp gajahan sudah tidak ada pepohonan lagi.

menuju camp gajahan


Melihat beberapa berjalan menyusuri sabana, kami mantapkan untuk sampai di camp gajahan selagi stamina masih fit. Pos 2 atau disebut Pos Bogel dengan pohon tunggalnya menjadi camp favorit melepaskan lelah. Banyak diantara mereka yang mendirikan tenda di Pos 2 sedang memasak dan packing untuk turun. Sepanjang perjalanan menuju camp gajahan sedikit menanjak, dan memang sudah tidak ada lagi lahan untuk camp. Waktu menunjukkan pukul 16.00 sampailah kami di Camp Gajahan. Ada sekitar 7 tenda yang sudah berdiri, setidaknya jika camp disini waktu untuk perjalanan summit tidak terlalu lama.

Sembari menunggu sunset yang datang tepat berhadapan di tenda kami, masak adalah momen yang tepat. Kembali ke awal perjalanan tadi, lupa membawa tempe untuk menggoreng mendhoan. Alhasil bumbu mendhoan kami goreng mentah-mentah, dan ditambah sambal kecap sebagai perasa haha. Sindoro di ufuk utara juga terselimut awan dengan gagahnya. Sampai akhirnya sunset malu malu untuk menampakkan diri.

camp gajahan dengan beberapa tendanya

sunset yang malu malu

Ternyata benar yang dikatakan beberapa pendaki, camp gajahan anginnya terbilang luar biasa. Kami berempat hanya bisa tertidur ala kepompong di dalam tenda. Suhu tidak terlalu dingin kala itu, hanya saja angin berhembus membuat beberapa frame berbunyi dan layer tenda bergoyang-goyang. Alif terlihat gelisah ketika mendengar seperti pasak terlepas dari tenda. Usai angin melanda sepanjang maghrib, jam 21.30 angin mulai tenang. Taburan bintang dan kerlap-kerlip lampu kota wonosobo terlihat dari camp gajahan, secara otomatis saya keluarkan mini tripod dan kamera untuk mengabadikan milkyway didepan mata. Dua orang teman saya (Henda dan Galang) sepertinya lelah dan hanya bisa tertidur di dalam tenda dengan perut kosong. Namun saya dan alif ternyata susah untuk tidur ketika perut kosong. Alif dengan mengenakan sarung yang terbangun lebih dahulu memasak air untuk 2 gelas kopi beserta mie instan. Angin kembali berhembus ketika perut sudah kenyang, menutup tenda dan tertidur adalah jawaban yang tepat untuk memulihkan stamina sebagai perbekalan summit esok hari.

Camp Gajahan - Puncak
Pagi harinya sekitar jam 03.00 alarm HP yang sebelumnya sudah kami set up berbunyi. Semua orang terbangun, lampu sorotan headlamp orang yang sedang berjalan melewati tenda kami saling menyapa. Kembali menyalakan kompor stove untuk menghangatkan air dengan kopi sebagai perbekalan summit.
“nganggo tase galang wae seng cilik” alif mengistruksikan kepada galang supaya membawa tas nya.

Tisu basah, tisu kering, termos, kamera, jajanan jajanan sudah terpacking untuk melanjutkan menuju puncak. Tak lupa headlamp terpasang dan jaket untuk menembus dinginnya gunung sumbing. Pukul 03.30 memulai perjalanan menuju puncak. Terlihat dari kejauhan pendaki yang sedang summit pula dari gunung sindoro saling menyapa lewat sorotan senter menuju arah kami.

MT BUMIL Bikin kenyang aslik!

Sinar matahari mungkin adalah bonus bagi mereka yang telah sampai di puncak yang menyapa sunrise yang terhalang oleh puncak. Pagi itu sangat cerah, sambutan burung – burung menemani perjalanan. Gunung sindoro masih gagah menyapa di seberang. Terlihat juga tenda-tenda yang didirikan dari jalur garung dengan kemiringannya. Setelah kurang lebih setengah perjalanan, saya menoleh ke kanan dikejutkan dengan bebatuan besar yang dipenuhi aksi vandalism. Tidak menahunya para pendaki yang vandalism itu entah apa tujuannya. Eksistensi? Jadi diri? Keren? Tidak. Mencoret-coret nama kalian atau kota kalian di alam dengan berbangga diri bahwa kalian telah sampai di gunung sumbing bukankan itu norak? Sadarlah kawan.

marspala tapi vandalism? norak!



Perjalanan kembali dikejutkan dengan cantiknya bunga edelweiss yang sudah mulai mekar. Trek yang semakin naik dan berkelok-kelok, serta batu batu besar dimana mana menjadikan pertanda bahwa puncak sudah dekat. Beberapa orang telah mengibarkan bendera merah putih diatas sembari mengabadikannya dan inilah puncak.

Waktu menunjukkan pukul 06.30 yang artinya kami menempuh 3 jam perjalanan dari camp gajahan menuju puncak. Bayangkan saja jika kami camp di Pos 2, mungkin bisa ditempuh dalam waktu 4 jam perjalanan. Ada 2 puncak yang menjadi daya pikat, yaitu puncak buntu berada di sebelah kiri dan puncak rajawali berada di sebelah kanan. Segara wedi dan kawah terlihat dari atas sini dengan luasnya. Tak sempat turun ke segara wedi karena memang kondisi fisik sudah tak mampu dan dikejar waktu untuk pulang. Dalam benak hati, penasaran akan adanya makam yang tak jauh dari kawah. Sering kali ramai segara wedi untuk para peziarah dikala malam 1 sura.



hello segara wedi!

berangkat berempat, pulang berbanyak!



Dirasa cukup sekedar memotret, kami akhirnya turun dari puncak menuju camp gajahan. Waktu lebih cepat ketika turun hanya sekitar 1,5 jam kami turun sembari diperjalanan mengabadikan sabana yang hijau dan sempat berlarian di luasnya sabana ini.

ada yang sedang summit di siang bolong? :o

kabut tipis mulai turun

savannah


Alif dan Henda yang sampai di tempat camp duluan sedang mempersiapkan makanan yang akan disantap sebelum turun ke basecamp. Pagi itu kami memasak kangkung, sarden, dan mie goreng sebagai bekal turun. Semakin panas karena waktu sudah menunjukkan pukul 10.30 kami menggelar matras sebagai alas makanan yang tadi kami masak. Terlihat enak, memang apapun menu makanan yang disajikan di gunung selalu enak. repacking dan meninggalkan camp gajahan.

our menu (kangkung, sarden, mie goreng)

Hanya butuh waktu 3 jam kami sampai di parkiran swadas. Kondisi sudah mulai menurun, jari jari kaki sudah mulai pegal ketika menuruni trek. Saya dan henda pun berjalan dengan membalikan badan. Waktu menunjukkan pukul 15.00 , dan setibanya di parkiran swadas tak ada ojek yang sedang menunggu pendaki. 15 menit menunggu tak ada suara motor dari kejauahan. Kami menelfon pihak basecamp untuk memesan 4 ojek, dan beruntungnya ada sinyal masuk walaupun putus-putus. Nah ini yang menjadi nilai plus nya mendaki gunung sumbing via bowongso, kita bisa memesan ojek dari basecamp. Karena memang untuk sistem pembayaran langsung dibayar di basecamp, bukan perorangan dari ojek tersebut. Harga untuk ojek pun sama ketika naik, hanya Rp 15.000 kalian sudah bisa membantu para warga sekitar untuk melangsungkan hidup para ojek.

Terdengar suara motor dari kejauhan, pertanda ojek datang. Tas carrier dipangkunya oleh mas mas ojek, dan saya pun duduk dibelakang. Gak kebayang sih kalau masih harus berjalan selama 2 jam dari parkiran swadas menuju basecamp dengan kondisi kaki sudah tak mampu HAHA.

Setibanya di basecamp, ku ucapkan terima kasih kepada mas ojek yang telah mengantarkan kami ke basecamp. Sore itu sudah mulai petang, tak butuh waktu lama usai kami membersihkan diri dari trek nya gunung sumbing kami melaporkan kepada pihak basecamp bahwa kami akan pulang. Setelah beres dari administrasi, kami memanaskan motor dan mengambil helm ke pihak basecamp. Alif yang pulang ke kosannya (Jogja) dan kami bertiga pulang ke Purwokerto.

Tin.. tin…

Sapaan klakson kami ke para pemuda yang menganakan jaket ojek identitasnya, dan teruntuk pihak basecamp. Didalam perjalanan menuju jalan raya kalikajar diguyur hujan ringan, berhenti sebentar memakai mantel. Popon selaku teman perjalanan mendaki, telah menunggu di Wonosobo Kota sekaligus ingin mendengar cerita gunung sumbing kemarin. Di kota wonosobo kami makan disebuah penyetan. Malam itu wonosobo diguyur hujan deras, dan saya hanya bermodalkan mantel plastik seharga Rp 5.000 saja. Semakin malam tak kunjung reda, kami paksakan untuk pulang. Mengingat sudah jam 9 malam dan besok memulai rutinitas kembali (kerja). Membunuh rasa kantuk diderasnya hujan sepanjang perjalanan Wonosobo menuju Purwokerto, kami berhenti di Pom Bensin Banjarnegara. Tempat rest area dipadati oleh pemudik arus balik saat itu, sempat 1 jam terhenti menunggu hujan reda sembari memberi kabar kepada ibu. Rumah, akhirnya aku kembali.

///

TIPS MENDAKI GUNUNG SUMBING VIA BOWONGSO
1.       Bagi yang mau ke basecamp bowongso naik kendaraan umum, bisa turun di pertigaan kalikajar atau pertigaan pasar kertek dilanjutkan menuju pertigaan kalikajar. Di pertigaan kalikajar ada pos ojek yang mangkal yang bisa sampai ke basecamp langsung.
2.       Ojek dari basecamp – parkiran swadas atau sebaliknya Rp 15.000 per orang dan bayarnya langsung ke basecamp. Jika tidak menemui ojek tersebut bisa langsung call pihak basecamp.
3.       Recommended bagi saya ngecamp di camp gajahan, selain akses menuju summit tidak terlalu lama dan menyingkat waktu juga view yang didapatkan menangkap sunset lebih epic



Monday, June 11, 2018

BIRDMAN - PARC 18, SCBD

Birdman is a Japanese restaurant owned by the Immigrant group (which also heads ventures like Monolog, Immigrant, Olivier, Garcon and more), and Birdman been around for quite some time (if I'm not mistaken, almost a year now), but a couple of weeks ago I finally got the chance to visit this restaurant for the first time and sharing the experience to you here. Birdman is located at PARC 18 SCBD, at the same area where Bistecca and The Dutch are.
Simple and minimalist are the main idea of their interior from what I see through my eyes, the restaurant is not the most spacious, and decorated in such a simple way, but I kinda like the warm and chill vibe from the restaurant, somehow matches the concept of the restaurant and the kind of food it presents here. The whole restaurant could probably accommodate around 40-50 people.
Salmon Poke Salad
A fresh starter to the lunch that day! Marinated fresh salmon with avocado on daikon bed and nori dressing, it was the right amount of salmon, properly seasoned, altogether light yet kinda prepared your palate for something more.
Left: Salmon Poke Onigiri (IDR 85k)
Right: Tebagyo Original (IDR 75k)
The Salmon Poke Onigiri is PURE LOVE! Fried square shaped onigiri (which by the way was perfectly fried) then topped with fresh salmon with spicy mayo dressing! Each bite was like this explosion of flavor and texture, a simple yet flavorful nibbles, the Tebagyo was chunky, I mean take a look at those fat chicken wings! Meat was tender, the soy seasoning was generous but not overly given.
Gyutan Lunch Set - IDR 120k
The set comes with gyutandon (rice topped with ox tongue), salad, miso soup, pickles and Kimchi mayo sauce! If you ask me frankly, IDR 120k for the whole thing is a bit to the hefty side, but quality wise, acceptable. The gyutan was fragrant, fresh, tender and pretty generously given, but for IDR 120k I honestly wanted more.
Whole Galbi (1 KG) - IDR 680k
Now to one of the highlights of Birdman! Just as appetizing as it looks: WHOLE 1 KG GALBI! The Galbi is marinated in this sweet soy marination, served with grilled vegetables, eggyolk and dipping sauce, and seriously the way you serve it is however you fancy. The Galbi was perfectly cooked (asked for Medium) and as you can see, the shining pink center! Meat was tender enough and since it's a 1 kg serving, you can definitely share this with up to 5-6 people, but if you're insane enough you can finish this yourself.
Unagi Claypot - IDR 398k
Another favorite of mine and another menu that you can share! UNAGI CLAYPOT! Generous beautifully cooked unagi on this bed of Japanese rice that's been cooked together with dashi stock and Sansho pepper. I think this time the picture does the justice and as you can see, the unagi was so nicely cooked, and the caramel golden color was so beautiful it's appetizing, they were moist but not wet, the rice was also not overly cooked hence it wasn't soggy, and the key, aka the dashi stock was also seasoned rightly, it wasn't overly salty.
12 pcs Yakitori - IDR 220k
If you're more into the Izakaya style dining and fancy sharing, then go with their 12 pcs Yakitori menu where you can enjoy 12 yakitori menus, and from the pictures displayed below: mostly chicken and pork, again, the picture should do the justice as the sauce glaze was reflective enough to make you believe that they are GOOD!
Based on my virgin visit to Birdman, I must say that most of the food live up to my standard, they were simple (which I genuinely like), major on ingredients, attentive yet easy on the seasoning, and universal for all, I just hope that they can always keep up with the consistency and quality.

Birdman
Parc 18 Tower 2, GF
Jalan Jendral Sudirman Kav. 52-53
Senayan, Kebayoran Baru
Jakarta Selatan 12190
Opening hours: 11 AM-10 PM
Dresscode: none
Average spending for two: IDR 300k
INSTAGRAM


FIND ME HERE
FACEBOOK || TWITTER || INSTAGRAM || GOOGLE+
SNAPCHAT: STANISLAUSHANS

Map for Birdman

Monday, June 4, 2018

MCD AYAM KREMES SAMBAL MATAH BY MCD INDONESIA

Has it been a week after I reviewed McD's latest Apple Banana Pie? They surely not taking Ramadhan for granted and start pushing another product of theirs that I just had earlier today (and coincidentally launched today): it's the MCD AYAM KREMES SAMBAL MATAH!!! The set menu which comes with their scrambled egg (special) and Kedondong Fizz is priced at IDR 41,5k (after tax), and I am going to give you guys a very brief review of this product!

I FUCKING LOVE IT! First, you can choose to have either their CRISPY or SPICY fried chicken to be in the set, and I tried both, but I guess since I was feeling something spicy, I kinda liked the combo between the spicy fried chicken with sambal matah! The sambal matah tho, it may not appear like the sambal matah that's freshly made (even though it is) with the red shallot, lemongrass, red chilli, etc, and it appears more like sambal ijo, but flavor wise... LOVEWORTHY! It had that sambal matah character, fragrance, spiciness (it's pretty spicy), and seasoning, and for me, match so well with their spicy fried chicken (and if you are like me, the spicier the better kind of guy I bet you're going to love it!), the rice is of course something you just can't take off, the scrambled egg here acts like the palate cleanser and neutralizer from the spiciness!

The idea to use Kedondong Fizz is pretty smart, however, for me, it doesn't really taste like kedondong, especially since I am an avid fan and the one that I normally had at QQ Kopitiam is original and taste different, but aside from that, a fresh thirst quencher that doesn't taste like kedondong LOL.
FIND ME HERE
FACEBOOK || TWITTER || INSTAGRAM || GOOGLE+
SNAPCHAT: STANISLAUSHANS