Monday, May 20, 2013

Pesona Alam Air Terjun Dua Warna


Di Sumatera Utara terdapat sebuah pesona alam yang sangat mengagumkan yakni Air Terjun Dua Warna atau ada juga yang menyebutnya dengan Air Terjun Telaga Biru yang terletak di Ds. Durin Sirugun, Kec. Sibolangit, Kab. Deli Serdang, Sumut yang berada tepat di kaki Gunung Sibayak. Jika ditempuh dari kota Medan ke Sibolangit sekitar  ±75 km. Dari lokasi bumi perkemahan Sibolangit menuju ke area air terjun membutuhkan waktu 2 hingga 3 jam perjalanan.

Air terjun dua warna yang berada di Sibolangit,  Sumatera Utara ini memiliki keindahan yang mana terletak pada air yang jatuh dari atas berwarna putih sedikit abu-abu, namun ketika air yang jatuh tersebut berada di bawah tidak berwarna putih melainkan biru. Hal tersebut terjadi, karena terdapat kandungan belerang dan phosfor yang dapat menyebabkan air yang jatuh dengan air yang berada di bawah memiliki warna berbeda, sehingga para pengunjung dilarang untuk meminumnya. Dengan kombinasi air terjun dua warna tersebut, membuat tampilan pemandangan alam air terjun semakin mempesona dan menakjubkan. Air terjun ini bersumber dari Gunung Sibayak.

Untuk dapat mencapai area air terjun dengan ketinggian ±100 meter memerlukan perjuangan keras, berangkat dari pintu utama Sibolangit, para pengunjung harus berjalan kaki dengan melewati hutan yang lebat sekitar 2 hingga 3 jam. 
Ketika melalui jalan setapak di dalam hutan menuju area air terjun dua warna, terdapat petunjuk arah jalan yang sengaja dipasang oleh pengelola untuk memudahkan para pengunjung menemukan area air terjun tersebut. Namun apabila pengunjung takut tersesat, pengunjung dapat menyewa pemandu wisata lokal yang berada disana dengan tarif antara 100 ribu rupiah sampai dengan 300 ribu rupiah.
 
Jalur yang dilalui memang tidak semulus seperti jalan raya kota, terdapat tanjakan, turunan hingga harus melewati satu sungai kecil. Namun setelah melalui perjalanan yang begitu ekstrem, rasa lelah, capek, dan pegal akan hilang dengan menyaksikan pesona alam air terjun dua warna tersebut.

Area air terjun yang terletak pada ketinggian 1.270 meter dari permukaan laut ini sebagian besar pengunjung berasal dari etnis Tionghoa, dikarenakan mereka mempercayai bahwa bila sesudah mengunjungi tempat ini mitosnya akan menambah keberuntungan mereka. Di sekitar air terjun dua warna tersebut terdapat prasasti yang mana dibuat untuk mengenang seorang wisatawan yang pernah meninggal di kawasan air terjun. Para pengunjung juga dapat mendirikan tenda untuk berkemah di sekitar kawasan air terjun dua warna sambil menikmati pesona alam dari air terjun itu sendiri.

Pesona Alam Pantai Lagundri


Pantai Lagundri merupakan salah satu pantai yang terdapat di Indonesia yang cocok bagi penggemar peselancar air atau surfing selain Pantai Sorake yang merupakan pantai yang terletak tidak jauh dari Pantai Lagundri. Pantai Lagundri terletak di sebuah laguna yang mana berdekatan dengan Pantai Sorake yang hanya memiliki jarak sekitar 13 km ke arah selatan Teluk Dalam, Kab. Nias Selatan yang berada di Sumatera Utara, sedangkan jarak antara Pantai Sorake dengan Pantai Lagundri hanya 2 km.

Pantai Lagundri memiliki daya tarik tersendiri yakni pada ombaknya yang tergolong besar sehingga memberikan tantangan bagi para peselancar lokal maupun mancanegara. Ombak di Pantai Lagundri dapat mencapai ketinggian hingga 7-10 meter dengan 5 level berbeda dan memiliki panjang dengan jangkauan 200 meter. Yang menjadi daya tarik tersendiri dari pantai Lagundri yakni ketika bulan purnama yang mana ombak pada saat bulan purnama sangat ekstrem sehingga menjadi idaman para peselancar.
Tidak kalah dengan pantai Sorake, pantai ini juga sering kali diadakan kejuaraan selancar air mulai dari tingkat nasional hingga internasional, salah satu kejuaraan yang pernah diadakan di Pantai lagundri yakni “Nias Open” yang mana didominasi oleh surfer asal Australia. Selain ombak yang terdapat di Pantai Lagundri sangat terkenal, pemandangan alam di sekitar pantai Lagundri juga memberikan daya tarik yang akan membuat mata kita cerah ketika menjelanng petang dengan pemandangan langit dengan warna kemerahan di sebelah barat dipadu dengan ombak yang mendukung keindahan pantai lagundri semakin mengesankan dan cocok bagi anda yang memiliki hobi fotografi.

Biasanya para wisatawan mengunjungi Pantai Lagundri pada antara bulan April hingga September, dikarenakan sekitar bulan-bulan tersebut ombak di Pantai Lagundri berada pada titik maksimal. Selain itu, di sekitar pantai Lagundri juga disediakan tempat penginapan yang terletak di bibir pantai ini dengan tarif sekitar ≥ ­Rp 80.000/malam. Bila anda ingin menginap di hotel juga tersedia Sorake Beach Hotel.
Untuk menuju ke lokasi Pantai Lagundri, dari Gunung Sitoli ke Pantai Sorake dan Pantai Lagundri tersedia dua jalur, yang pertama melalui Lahewa diteruskan ke Pulau Nias hingga menuju Teluk Dalam dan yang kedua dengan menyusuri kota-kota atau kecamatan seperti misalnya Bawolato, Idanogawo, Gido, dan Lahusa dengan waktu tempuh ± 3 jam.

Bagi yang hobi foto-foto atau fotografi, jangan lupa untuk membawa kamera dengan teropong lensa binocular untuk mengabadikan moment para peselancar dalam menaklukkan ombak yang dahsyat.

Keindahan Ombak Di Pantai Sorake


Pantai Sorake merupakan pantai yang terletak di desa Botohilitano yang berada di kecamatan Teluk Dalam, tepatnya di Kabupaten Nias Propinsi Sumatera Utara. Jarak pulau yang bernama pulau Nias ini berada pada sekitar 125 km dari P.Sumatera. Letak Pantai Sorake memang berada agak terpencil, namun pantai tersebut memiliki keindahan yang mengagumkan khususnya bagi para peselancar yang sangat tertantang ketika mendapati sebuah pantai dengan ombak yang cukup dapat memberikan tantangan, karena di pantai Sorake terkenal dengan ombaknya yang dapat dinikmati secara menantang bagi peselancar.
Keindahan Ombak di Pantai Sorake hampir memiliki kesamaan dengan pantai yang terletak tidak jauh dari pantai Sorake yakni Pantai Lagundri, Pantai Sorake ini dikenal oleh peselancara karena ombak yang dimiliki pantai Sorake tergolong besar. Ombak di Pantai Sorake merupakan salah satu ombak terbaik setelah pantai Hawaii. Ketinggian ombak di pantai Sorake mencapai 3-5 Meter tingginya yang mana dengan ombak yang setinggi itu menjadi tantangan bagi para peselancar. Selain itu, ombak di pantai Sorake memiliki 5 level yang mana tidak terdapat di pantai-pantai yang lainnya.
Di pantai Sorake para peselancar dapat berselancar dengan jangkauan 200 meter jauhnya, karena ombak yang terdapat di pantai Sorake memiliki karakteristik besar dan panjang, hal itu dikarenakan pantai sorake langsung berhadapan dengan Samudera Hindia. Keistimewaan lain yang dimiliki pantai ini yakni ombaknya tetap stabil meskipun arah mata angin berubah-ubah atau air laut mengalami pasang surut, ombak tersebut 
tetap tergolong besar.

Jangan membayangkan untuk bermain pasir seperti pasir putih yang terdapat di pantai lain, karena tepian pantai ini merupakan batu-batu karang yang berserakan disana sini. Akan tetapi karena batu-batu itulah yang membuat ombak di pantai ini tergolong besar. Selain itu di Pantai Sorake ini telah terkenal di seluruh penjuru dunia yang mana sering diadakan kejuaraan internasional bagi peselancar-peselancar professional.

Bila anda ingin berkunjung ke Pantai Sorake, lebih baik berkunjung antara bulan Juni dan Juli, karena pada bulan tersebut ombak di pantai ini sedang berada pada titik maksimal. Dan untuk menuju ke pantai Sorake dapat ditempuh melalui jalur udara yang berlokasi di Bandara Binaka, Gunung Sitoli, Nias dan dilanjutkan melalui jalur darat ke Teluk Dalam yang membutuhkan waktu sekitar 4 jam. Selain itu dapat juga ditempuh melalui jalur laut dengan menaiki kapal fery dari pelabuhan kota sibolga ke dermaga kapal yang berada di Gunung Sitoli dengan waktu tempuh sekitar 12 jam, selanjutnya harus perjalanan darat ke Teluk Dalam.

Wednesday, May 1, 2013

MALIOBORO Menyusuri Jalan Karangan Bunga dan Surga Cinderamata di Jantung Kota Jogja

Malioboro Malioboro

MALIOBORO

Alamat: Jl. Malioboro, Yogyakarta, Indonesia

Berasal dari bahasa Sansekerta yang berarti karangan bunga, Malioboro menjadi kembang yang pesonanya mampu menarik wisatawan. Tak hanya sarat kisah dan kenangan, Malioboro juga menjadi surga cinderamata di jantung Kota Jogja.

MalioboroMatahari bersinar terik saat ribuan orang berdesak-desakan di sepanjang Jalan Malioboro. Mereka tidak hanya berdiri di trotoar namun meluber hingga badan jalan. Suasana begitu gaduh dan riuh. Tawa yang membuncah, jerit klakson mobil, alunan gamelan kaset, hingga teriakan pedagang yang menjajakan makanan dan mainan anak-anak berbaur menjadi satu. Setelah menunggu berjam-jam, akhirnya rombongan kirab yang ditunggu pun muncul. Diawali oleh Bregada Prajurit Lombok Abang, iring-iringan kereta kencana mulai berjalan pelan. Kilatan blitz kamera dan gemuruh tepuk tangan menyambut saat pasangan pengantin lewat. Semua berdesakan ingin menyakasikan pasangan GKR Bendara dan KPH Yudhanegara yang terus melambaikan tangan dan menebarkan senyum ramah.
Itulah pemandangan yang terlihat saat rombongan kirab pawiwahan ageng putri bungsu Sultan Hamengku Buwono X lewat dari Keraton Yogyakarta menuju Bangsal Kepatihan. Ribuan orang berjejalan memenuhi Jalan Malioboro yang membentang dari utara ke selatan. Dalam bahasa Sansekerta, malioboro berarti jalan karangan bunga karena pada zaman dulu ketika Keraton mengadakan acara, jalan sepanjang 1 km ini akan dipenuhi karangan bunga. Meski waktu terus bergulir dan jaman telah berubah, posisi Malioboro sebagai jalan utama tempat dilangsungkannya aneka kirab dan perayaan tidak pernah berubah. Hingga saat ini Malioboro, Benteng Vredeburg, dan Titik Nol masih menjadi tempat dilangsungkannya beragam karnaval mulai dari gelaran Jogja Java Carnival, Pekan Budaya Tionghoa, Festival Kesenian Yogyakarta, Karnaval Malioboro, dan masih banyak lainnya.
Malioboro
Sebelum berubah menjadi jalanan yang ramai, Malioboro hanyalah ruas jalan yang sepi dengan pohon asam tumbuh di kanan dan kirinya. Jalan ini hanya dilewati oleh masyarakat yang hendak ke Keraton atau kompleks kawasan Indische pertama di Jogja seperti Loji Besar (Benteng Vredeburg), Loji Kecil (kawasan di sebelah Gedung Agung), Loji Kebon (Gedung Agung), maupun Loji Setan (Kantor DPRD). Namun keberadaan Pasar Gede atau Pasar Beringharjo di sisi selatan serta adanya permukiman etnis Tionghoa di daerah Ketandan lambat laun mendongkrak perekonomian di kawasan tersebut. Kelompok Tionghoa menjadikan Malioboro sebagai kanal bisnisnya, sehingga kawasan perdagangan yang awalnya berpusat di Beringharjo dan Pecinan akhirnya meluas ke arah utara hingga Stasiun Tugu.
Melihat Malioboro yang berkembang pesat menjadi denyut nadi perdagangan dan pusat belanja, seorang kawan berujar bahwa Malioboro merupakan baby talk dari "mari yok borong". Di Malioboro Anda bisa memborong aneka barang yang diinginkan mulai dari pernik cantik, cinderamata unik, batik klasik, emas dan permata hingga peralatan rumah tangga. Bagi penggemar cinderamata, Malioboro menjadi surga perburuan yang asyik. Berjalan kaki di bahu jalan sambil menawar aneka barang yang dijual oleh pedagang kaki lima akan menjadi pengalaman tersendiri. Aneka cinderamata buatan lokal seperti batik, hiasan rotan, perak, kerajinan bambu, wayang kulit, blangkon, miniatur kendaraan tradisional, asesoris, hingga gantungan kunci semua bisa ditemukan dengan mudah. Jika pandai menawar, barang-barang tersebut bisa dibawa pulang dengan harga yang terbilang murah.
Selain menjadi pusat perdagangan, jalan yang merupakan bagian dari sumbu imajiner yang menghubungkan Pantai Parangtritis, Panggung Krapyak, Kraton Yogyakarta, Tugu, dan Gunung Merapi ini pernah menjadi sarang serta panggung pertunjukan para seniman Malioboro pimpinan Umbu Landu Paranggi. Dari mereka pulalah budaya duduk lesehan di trotoar dipopulerkan yang akhirnya mengakar dan sangat identik dengan Malioboro. Menikmati makan malam yang romantis di warung lesehan sembari mendengarkan pengamen jalanan mendendangkan lagu "Yogyakarta" milik Kla Project akan menjadi pengalaman yang sangat membekas di hati.
Malioboro adalah rangkaian sejarah, kisah, dan kenangan yang saling berkelindan di tiap benak orang yang pernah menyambanginya. Pesona jalan ini tak pernah pudar oleh jaman. Eksotisme Malioboro terus berpendar hingga kini dan menginspirasi banyak orang, serta memaksa mereka untuk terus kembali ke Yogyakarta. Seperti kalimat awal yang ada dalam sajak Melodia karya Umbu Landu Paranggi "Cintalah yang membuat diriku betah sesekali bertahan", kenangan dan kecintaan banyak orang terhadap Malioboro lah yang membuat ruas jalan ini terus bertahan hingga kini.

Keterangan: Karnaval dan acara yang berlangsung di Kawasan Malioboro biasanya bersifat insidental dengan waktu pelaksanaan yang tidak menentu. Namun ada beberapa kegiatan yang rutin diselenggarakan setiap tahun seperti Jogja Java Carnival yang selalu dilaksanakan tiap bulan Oktober, Festival Kesenian Yogyakarta pada bulan Juni hingga Juli, serta Pekan Kebudayaan Tionghoa yang dilaksanakan berdekatan dengan perayaan tahun baru China (Imlek).