Friday, February 3, 2012

Danau Gunung Tujuh

Gunung Tujuh Lake (Seven Mountain Lake) is the highest lake in Southeast Asia. Besides the existence of Lake Kerinci, which is the second largest lake after Lake Toba in North Sumatra. And there are several other small lakes with unique natural beauty. Grouse Lake with pristine nature give a different touch.



Gunung Tujuh Lake is a caldera lake formed by volcanic activity in the past. At an altitude of 1996 m above sea level, this lake is the highest lake in Southeast Asia. The lake is often covered in fog with an average temperature of 17 0C. Lake Area of ​​960 ha ± 4.5 km in length and width ranging from 3 km. The lake is surrounded by seven mountains, the Upper Mount Tebo (2525 meters), Mount Hulu Sangir (2330 m), Madura Iron Mountain (2418 m), Mount Moss covered the various types of moss (2350 m), Mount Basil (2230 m) , Mount Jar Bake (2469 m), and Mount Seven (2735 m).

Gunung Tujuh Lake known as Mystic Lake by the community. Lake water always looks clean even the leaves were not found although there were many fallen trees on the edge of the lake. According to the people around the strange events occur frequently, such as weather changes suddenly. At the opening of the lake, one worker told the host that the boat spinning in the middle of a lake without an obvious cause.

Communities around believing that the Gunung Tujuh Lake is inhabited by human beings in the form of fine, named "Lbei Sakti" and "Saleh Sri Menanti" with some of his followers in the form of a tiger.


Gunung Tujuh Lake is a source of livelihood for some villagers. There are several huts alongside a lake that is used by fishermen as a place to live. Day-to-day fishing with the fishermen and fish trap boat, early morning fish trap installed in the middle of the lake later this afternoon raised fish trap.

Used boats made ​​of one piece of logs with a diameter ranging from 30-40 cm, and with such workmanship round wood is shaped like a boat. Used by fishermen fish trap made ​​from bamboo strips woven. This fish trap was tied to the middle rope, at the end of the rope tied around the bottle (a type of bottle Aqua) and stones at the other end as a weight.

The lake is located in the Village Pelompek, District Kayu Aro with a distance of ± 56 km from the Sungai Penuh. To enjoy the beauty and coolness of air Gunung TUjuh Lake visitors must walk through the trail for 2-3 hours.

Thursday, February 2, 2012

DESA WISATA JIMBUNG KLATEN

 

Desa Wisata ini adalah sebagai salah satu desa di Kabupaten Klaten yang memiliki banyak potensi wisata pedesaan yang cukup layak untuk dikunjungi dan dinikmati.
Siapa mau menikmati eksotisnya alam pedesaan di Kabupaten Klaten, ungkapan vulgar untuk menyampaikan betapa desa wisata di Kabupaten Klaten telah siap di kunjungi dan dinikmati oleh wisatawan.Salah satunya adalah Desa Wisata Jimbung yang terletak di sebelah selatan kota Klaten kurang lebih 6 km,tepatnya Di Desa Jimbung,Kecamatan Kalikotes,selama ini Desa Wisata Jimbung dikenal sebagai Desa yang memiliki daya tarik spiritual utamanya pada hari raya Syawalan atau hari raya sesudah bulan puasa berakhir yaitu tepatnya H +7.

Desa Wisata ini adalah sebagai salah satu desa di Kabupaten Klaten yang memiliki banyak potensi wisata pedesaan yang cukup layak untuk dikunjungi dan dinikmati,tidak untuk mencari kekayaan semata,namun juga pesona wisata desanya. Sebagai obyek wisata alternatif Anda dapat menyaksikan kehidupan suasana alam pedesaan, obyek wisata yang menyejukkan dan wisatawan dapat menghayati pola kehidupan masyarakat ala pedesaan yang aman,tentram,damai,jauh dari segala kesibukan kota besar yang populatif,di sini wisatawan juga dapat mempelajari kondisi psiko sosial masyarakat Jawa yang sarat akan nilai-nilai luhur budaya Jawa,ramah tamah,gotong royong,saling menolong,ulet,sabar dan hidup harmonis dengan alam sekitarnya.

Wisatawan juga dapat menikmati kesenian yang dipentaskan oleh warga setempat,belajar mengolah tanah persawahan dan menanam tanaman,serta memancing yang sekarang merupakan aktifas yang makin langka dan jauh dari interest generasi muda sekarang akibat kuatnya arus perubahan sebagai dampak terpaan media massa.

Di Desa Wisata Jimbung Anda juga dapat mencoba belajar membajak yang merupakan salah satu aktifas dalam mengolah lahan persawahan sebelum ditanami bibit padi,alat pertanian untuk mengolah persawahan tersebut dengan menggunakan tenaga hewan (kerbau/sapi) yang nampaknya sudah jarang kita temukan ditempat lain. Bentuk bajak tradisional tersebut berupa sebujur kayu dan pada ujung bawah dipasang besi lengkung tajam selebar kurang lebih 40-50 cm,besi yang agak melengkung itu sebagai alat untuk membolak balikkan tanah,proses awalnya biasanya disebut dengan ngluku yaitu alat ini ditarik oleh 2 ekor kerbau atau sapi dan sehabis ini biasa disebut nggaru yaitu meratakan tanah setelah diberi air supaya mudah untuk ditanami bibit padi yang tak kalah mengasyikkan adalah berjalan di atas pematang sawah yang baru saja ditembok,kaki Anda penuh dengan lumpur dan betapa mengasyikkannya ketika Anda akan mencoba memandikan kerbau dan menghela bebek dari sawah untuk dimasukkan ke kandang,ikut membajak di sawah,tentu hal ini merupakan suatu atraksi yang imposible terjadi di kota besar dan akan menjadi kenangan indah dalam hidup Anda.

Di Desa Wisata Jimbung ini banyak legenda ditengah masyarakat yang masih terpelihara dengan baik,salah satunya adalah Obyek Wisata Sendang Bulus Jimbung ini,yang menurut cerita yang ada dimasyarakat dihuni oleh sepasang bulus/kura-kura yang bernama Kyai Poleng dan Nyai Poleng,yang merupakan jelmaan dari abdi Dewi Mahdi yang telah disabda menjadi bulus yang hingga kini masih mendiami sendang tersebut,Adapun sendang ini dibuat oleh Pangeran Jimbung yang gagah perkasa dengan menancapkan tongkatnya,dan beliau bersabda bahwa kelak dikemudian hari sendang ini akan banyak didatangi orang yang akan memberi makan. Menurut legenda dan banyak orang yang telah berhasil,barang siapa ingin mencari kekayaan dengan jalan pintas/meminta bantuan Kepada Kyai Poleng dan Nyai Poleng kelak jika berhasil badan orang tersebut akan menjadi poleng seperti bulus jimbung.

Kaitanya dengan Obyek wisata Jimbung diatas dan ada kaitan yang sangat erat kalau orang akan mencari kekayaan dengan jalan pintas harus berjalan ke arah timur tepatnya di perbukitan pegunungan kapur,dari jalan kearah waduk Jombor.Anda akan melihat rumah tua yang berdiri dengan kokohnya diatas perbukitan kapur dan anda harus berani berpuasa dan tidur di rumah tua tersebut. Orang menyebutnya sebagai Rumah Demit karena memang tidak di huni oleh manusia,yang dalam legenda masyarakat menyebut demikian karena rumah tua yang terletak diatas bukit pegunungan kapur ini menjadi tempat bersemayamnya para dedemit,sejak kapan rumah tua ini dihuni oleh para dedemit,masyarakat tidak mengetahuinya secara pasti,dan juga tidak mengherankan kalau rumah tua itu masih dikeramatkan oleh masyarakat desa karena menyimpan banyak misteri yang sulit untuk kita buktikan dengan nalar dan akal manusia,silahkan anda mencoba kalau ingin mempunyai sesuatu tujuan.

Di Desa Wisata Jimbung ini Wisatawan dapat melihat cara-cara pembuatan batu bata merah,genteng pembuatan gamping kapur (sebagai bahan pembuatan rumah) dan juga yang tak kalah menariknya adalah belanja dipasar tradisional.
Wisatawan dapat juga belajar cara-cara penangkaran budidaya burung-burung yang sudah langka,misalnya budidaya burung Jalak Uren,Cucak Rowo dll.